Senin, 30 Maret 2015

EPISODE 5 : I'll give you everything

Saat itu musim hujan... Deras turun kebumi. Mengguyur belahan bumi tanpa ampun. Semua bergerak seolah slow motion. Rinai hujan yang jatuh perlahan.. Ryan menatap nanar kedepan.... Bzzzzz oke stop. Ini alay. Ganti settingan.

Virly tidak menghiraukan kekacauan di belakangnya. Yang dipikirnya hanya satu, jangan sampai dia pulang sebelum semuanya benar - benar tuntas. Ryan yang berlari hendak mencegah Virly justru hampir terjengkang, ketika sepasang tangan mencengkeramnya dengan kuat dan mendorongnya ke belakang. Rendy susah payah berdiri dan mendorong Ryan. Berlari sekuat tenaga menyusul Virly. Sebuah pick up yang melaju kencang tiba - tiba saja muncul begitu saja. Virly menjerit dan berbalik arah. Semua begitu cepat. Seperti sekedipan mata. Ryan terpelanting menghantam aspal. Hal yang diingatnya hanya satu. Dia tidak bisa membiarkan laki - laki yang dicintai Virly celaka. Itu saja. "Demi kamu, Vi.... " Rendy masih terpaku. Dia sendiri terperosok dibahu jalan. Ryan menariknya begitu kuat dan mendorongnya ke belakang. Shocked. What the...? 

Disudut sebuah Rumah sakit, mama Virly seperti orang gila. Panik, sedih, takut. "Apa yang harus aku bilang ke Gena Tuhaaan? Anaknya dalam keadaan seperti ini. Aku harus bilang apa?" Virly diam tak bergerak. Terpaku menatap lantai. Seperti orang yang diserang katatonia. Bahkan tangisan saja dia tidak mampu melakukannya. Freeze ditempat ya duduk. Menggumamkan kata - kata yang bahkan mungkin dia sendiri tidak mengerti artinya.

Rendy adalah orang paling merasa bersalah. "Harusnya aku yang celaka, astagaaa... Kenapa semua ini jadi seperti ini? Semua salahku. Harusnya aku sadar diri. Siapakah aku ini yang hendak merusak kebahagiaan gadis yang aku cintai? Ryan jelas mampu membahagiakan Virly daripada aku. Sayang Ryan pada Virly sudah tidak diragukan lagi. Aku bahkan mungkin tidak sanggup membelikan baju yang layak untuknya." Rendy menghentak - hentakkan kakinya ke lantai. Gelisah. Hanya dia dan Tuhan yang tahu, apa yang dirasakannya saat ini. 

Dokter yang menangani Ryan keluar dari ruang IGD dan memandang ketiga manusia yang sedang dilanda perasaan tidak karuan. "Maaf, siapa yang keluarganya pasien? Saya harus bicara dan meminta ijin untuk melakukan amputasi kaki kirinya." ( please yang dokter, prosedurnya kek apa wooi? Hahahaha... Oke skip)

5 bulan sejak peristiwa yang menghantui seluruh hidup ketiga manusia yang terkait satu sama lain dengan cara yang bahkan tidak terpikirkan oleh siapapun. Ryan duduk diatas kursi rodanya. Menatap Virly datar. Diam dan menghela nafas berkali - kali. "Aku membebaskan kamu Vi, aku sudah tidak mencintaimu lagi. Bukan karena cacatku. Sekali lagi jangan berpikiran seperti itu. Murni karena aku sadar kamu tidak akan pernah mencintaiku sampai kapanpun. Cintamu bukan buat aku. Rendy adalah orang yang kamu cintai Vi. Aku hanya orang yang memaksakan diri masuk dalam kehidupan kalian. Maafkan aku. Tapi aku sudah melupakan perasaanku padamu. Tolong jangan temui aku lagi." Berkata begitu Ryan memutar balik arah kursi rodanya dan berusaha secepatnya berlalu. Dia tidak mau airmatanya jatuh didepan Virly. Tidak perlu. Dia yang laki - laki. Sakit di dadanya bisa ditahan. Tapi membiarkan Virly terpaksa mencintainya karena kasihan adalah sakit yang tidak bisa ditahan. Harga dirinya tidak mampu membendung hal seperti itu. Meskipun setahun belakangan semua seolah telah diberikan pada gadis itu. Tidak kali ini. "Maafkan aku Vi, semuanya demi kamu... Demi kita." 

Airmata tidak terbendung menetes perlahan dipipi Virly. Tanpa isakan. Mematung berdiri memandang Ryan yang berlalu dari hadapannya. Virly menjerit emosi, "Ryan... Kamu bodoh Ryan. Kenapa setelah semua yang kamu lakukan untukku. Bahkan hidupmu hancur seperti ini karena aku. Masih saja kamu bodoh berlagak seperti pahlawan kesiangan, melindungi aku sekali lagi? Aku bodoh Ryan, TAPI KAMU LEBIH BODOH!! Aku mencintaimu. Bukan karena kasihan. Ternyata aku mencintaimu. Aku yang bodoh baru menyadari ini semua. Dan aku terlambat... Ternyata aku hanya mencintai memory tentang Rendy. Aku mencintai bayangan masa lalu bersamanya. Bukan Rendy. Hanya kenangan indah bersamanya. Kamu Ryan, yang selalu ada buat aku. Kamu yang selalu meluangkan waktu mendengarkan aku.  Kamu yang selalu menghiburku, bahkan kamu rela berbohong sama mama demi melindungi aku. Aku nggak tau lagi harus bagaimana Ryan. Aku yang salah.. Aku yang terlambat menyadarinya. Kini kamupun bahkan tidak mau menoleh padaku.  Tolong jangan hukum aku seperti ini Ryan. Aku bahkan lelah menghukum diriku sendiri. Aku janji sekarang biarlah aku membayar semua ini. Waktu yang terlewatkan sia - sia. Biarkan aku selalu ada buat kamu Ryan. Biarkan aku yang menjagamu. Tolong jangan pergi dariku..." Tangis Virly mulai pecah. Dia tidak lagi mampu berkata - kata. Hatinya bagaikan dihimpit dengan dua tembok berlawanan arah. Sakit ini mungkin yang telah dia berikan kepada Ryan selama ini. Setahun yang sia - sia. Waktu adalah hal paling berharga yang bisa diberikan seseorang kepada orang yang dicintainya. Karena waktu tidak bisa diambil kembali. Karena waktu tidak mungkin dikembalikan lagi. (Yassalaaam aku kok malah nangis sendiri nulis bagian ini. 😭😭😭) 

Ryan menghentikan kayuhan tangannya di kursi Rodanya. Hatinya sakit sekali. Benarkah apa yang baru saja didengar? Hampir saja dia membalikkan arah dan menyongsong Virly. Tapi tidak. Dia harus kuat. Demi Virly. Masa depannya lebih baik apabila tanpa dia. Dia adalah manusia tidak bermasa depan. Dan dia mengayuhkan kursi rodanya menuju mobilnya. Sopirnya membantunya masuk kedalam mobil. Dan segera pajero sportnya melaju membelah jalanan.... 

Apa yang akan dilakukan Virly untuk meyakinkan Ryan? Apakah Ryan mau kembali menerima Virly? Bagaimana dengan Rendy yang hampir depresi? 



Btw.. Hai kalian penggemar Mang Jaya, dia udah aku buang ke laut. Ngrusak imajinasi. Rusuh amat tuh orang HAHAHAHAHAHAHA... YA MAAAP. πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚

EPISODE 4 : Damn you! Aku benci situasi ini.

Kontrakan Rendy berada diujung sebuah gang sempit. Virly tahu kenapa mama mati - matian menentang hubungannya dengan Rendy. Klise. Keluarga Rendy bukan keluarga idaman para orang tua yang lebih mementingkan status sosial dan kemapanan. Virly tidak habis pikir, siapa yang akan menjalani semua ini nanti? Dia atau kedua orang tuanya? Siapa yang akan menanggung derita batin hidup bersama orang yang tidak ia cintai? Untuk apa semua ini? Cinta bisa tumbuh kemudian? Bullshit!! Virly tidak percaya omong kosong seperti itu. Dia cinta Rendy titik. Sebaik apapun Ryan padanya. Dunianya makin jungkir - balik. Dan dia nekad mengarang cerita soal kehamilannya kepada Ryan. Supaya Ryan menyerah. Tapi sepertinya tidak semudah itu. Dan Virly makin frustasi. Dia hampir bisa meyakinkan Ryan. Tiba - tiba Rendy muncul begitu saja. Dari mana dia tahu Virly ada disitu?

Virly menatap dua lelaki dihadapannya. Hatinya seperti diremas tangan raksasa. Tuhan, akan seperti apa jadinya ini? Drama yang ia ciptakan sendiri, dan berbalik seperti bumerang. Ryan tetap pada pendiriannya untuk membawanya pulang. Ini tanggung jawab. Virly hampir saja merasa ditipu oleh perasaannya sendiri. Bahwa ia terkesan akan sikap Ryan? Mulai suka? NO!! Dia menarik nafas dalam - dalam. "Ry, maafkan aku. Aku tidak bermaksud membuat situasi jadi sesulit ini. Kamu orang baik Ry, hanya saja... Aku terlanjur mencintai Rendy. Perasaan tidak bisa ditipu kan Ry?" "Kenapa Vir? Kenapa baru sekarang? Kenapa kamu nggak bilang dari awal? Aku pasti membantumu dengan menolak pertunangan kita. Tapi sekarang aku terlanjur mencintaimu juga Vir, aku salah? Kamu bilang perasaan tidak bisa ditipu kan?" 

Rendy mengepalkan tinjunya dalam diam. Dia memandang laki - laki didepannya dengan amarah yang meluap. Namun dia menahan diri. Ini tidak akan membawa hasil yang baik dengan mengumbar emosi. Bahkan mungkin bisa saja Virly jadi berbalik arah membencinya. Situasi saat ini benar - tidak menguntungkan dia dari semua sisi. Tapi dia pun tidak mampu memulai kata. Laki - laki macam apa yang tidak mampu berbuat apa - apa disaat gadis yang dicintainya berada diposisi sulit dan terancam diambil orang? Tanpa sadar dia menghela nafas panjang. Susah payah dia bersuara. Mengatur nafas agar tidak meledak ke permukaan. "Virly, sayang... Ya sudahlah. Mari kita ambil jalan terbaik. Kamu pulanglah bersama Ryan hari ini. Temui mama kamu dahulu, sayang. Aku akan menyusul 3 hari lagi. Aku harus mengurus cuti bukan? Kita temui orangtua kamu bersama - sama. Kalaupun ini tidak berhasil, kita sudah berusaha bukan? Aku tetap akan memperjuangkan kamu. Asal kamu tetap menjadi Virlyku. Aku tahu ini basi. Tapi kamu tahu aku tulus kan?" Belum selesai Rendy berkata - kata, tiba - tiba saja pintu depan rumah mungil itu di gedor dengan keras. Seolah - olah orang dibalik pintu itu tidak sabar mau menumpang ke WC. (Aku mules beneran. Oke skip) 

Mereka bertiga bertatapan bingung. Terkejut dan hampir terserang panik.  Ada apalagi ini? Rendy berlari kecil menuju arah pintu. Tergesa dia membuka pintu rumah kontrakannya yang seperti hampir tidak kuat menahan gedoran keras dari luar. Dan... Braaak!! Dia terjengkang kebelakang dengan keras. Hidungnya seperti berdarah. Belum selesai keterkejutannya, tendangan datang bertubi - tubi bersarang keras tanpa ampun di perutnya. Virly menjerit keras. Bahkan Ryan berusaha melerai mereka. Mang Jaya! Sopir mama berbadan besar itu seperti kesetanan menghajar Rendy yang sepertinya sudah hampir tidak mampu bergerak. "Mamaaaaaaaaaa.... Please stop it!!! Mamaaaaaaaaa....." Virly hampir saja kehilangan kesadaran dan bahkan itu tidak membuat mama Virly bergeming. Lalu tiba - tiba "Mang Jaya cukup!" Wanita setengah baya itu memandang Rendy yang terkapar. "Virly ayo pulang. Dan kamu Ryan, tante kecewa sama kamu. Tante berharap kamu membawa Virly pulang, kalian justru berada disini membuang waktu." 

Virly yang kebingungan dan panik. Takut dibawa pulang paksa, tidak lagi mampu menahan diri. Nekad dia berlalu menyeruak ke arah pintu. Ryan tidak siap, bahkan mang Jaya masih mengatur nafas. Virly secepat kilat berlari ke arah jalan, menuju tukang ojeg yang mangkal diujung jalan. Mama Virly yang sigap segera berteriak menyuruh mang Jaya mengejar. Bahkan Ryan pun ikut gegabah mengejar Virly. Tapi....

Bersambung ye xixi...

EPISODE 3 : Rendy



Ini hanyalah masalah waktu saja sebenarnya. Rendy telah lama membenci tunangan Virly. Gadis yang dicintainya sejak awal dia melihatnya. Waktu itu dia yang notabene ketua OSIS,(eh, sekarang namanya masih OSIS gak sik? Lol. ) bertugas mengkoordinasi teman - teman anggota OSIS lainnya untuk masa orientasi siswa baru. Gadis itu lucu sekali. Matanya berbinar ceria. Seakan tidak pernah takut pada apapun. Bahkan ketika kakak - kakak seniornya membentak - bentak tanpa perasaan. Matanya tetap mengerjap indah. Membuat siapa saja yang melihatnya ingin memeluknya. Rendy juga merasa seperti itu. Berangkat ke sekolah menjadi seperti hadiah yang dimenangkan dengan perjuangan. Bahkan sampai lupa harus tetap berwibawa sebagai ketua OSIS. Merasa bego sendiri, sekaligus bahagia sendiri. Semacam orang yang sedang dimabuk sesuatu. Virly gadis pertama yang sanggup membuatnya seperti itu. Dan Rendy tidak sanggup menghentikan tingkah - tingkah konyol didepan Virly. Dan Virly yang awalnya senang mendapat seorang fans berpenampilan keren dan terkenal seantero gadis - gadis disekolahnya lama - lama ketagihan terhadap semua perlakuan konyol Rendy. 

Rendy tergila - gila kepada Virly. Sudah bukan rahasia lagi. Bahkan ketika ia lulus terlebih dahulu dan harus berpisah kota karena Jogja jadi tujuannya kuliah. Gadis lain manapun belum sanggup menggantikan Virly. Saat Virly menceritakan pertunangannya dengan Ryan, ia tidak sanggup menjelaskan perasaannya sendiri. Perasaan marah, kebingungan, panik, dan segala pikiran buruk menghajarnya dari segala arah. Virly, what should I do? 

Rendy merengkuh kerah baju Ryan dan menghempaskannya lagi, sampai laki - laki itu terjerembab lagi ke lantai dingin. Sudut mulutnya mengalir darah segar. Tapi Ryan berdiri. Tidak melawan. Diam memandangnya. Lalu, "Aku tau kamu marah. Akupun marah. Aku tidak tau keadaannya begini. Kalau dari awal aku tau, aku lebih memilih pergi. Tapi sekarang, aku terlanjur mencintai Virly Ren. Aku tidak bisa pergi begitu saja. Aku masih punya tanggung jawab secara moral membawa Virly pulang. Tolong dinginkan kepala sejenak. Kita bicara baik - baik. Sebagai lelaki. Bukan sebagai pesaing." 

Rendy terdiam sejenak. Manager coffee shop dan beberapa sekuriti segera berdatangan (dari tadi kemana aja woii hahaha.. Eh maap OOT) "Ayo bicara di kontrakanku saja. Dan tolong jangan ambil kesempatan berdekatan dengan Virly! Itu saja syaratku." 

Bersambung... 
Yg nulis tepar.. Besok lagi yak hehehe... 

Jumat, 27 Maret 2015

EPISODE 2 : Titik Balik

EPISODE 2 : 
Titik Balik

Dan disinilah Ryan. Disebuah coffe shop kecil di Jogja. Pagi - pagi dia sudah mendarat di kota pelajar ini hanya untuk menepati janjinya kepada Virly. Sekaligus membunuh rasa penasaran yang seakan sudah berada diujung lidah. Sabar. Hanya itu manteranya saat ini. Mengusir segala beban tanya yang meneror nya seharian kemaren. Ingatannya kembali melayang saat Virly meneleponnya dengan gugup. "Ry, aku lagi di Jogja. Please jangan tanya apa - apa dulu. Kita ketemu di coffe shop aja. Alamatnya aku bisa SMS sekarang." Virly mendiktekan permintaannya tanpa memberi kesempatan Ryan bertanya lebih lanjut. Lalu tiba - tiba saja dering telpon genggamnya mengejutkannya sekali lagi. "Ryan, kamu dimana? Tante harus bicara sama kamu." Mama Virly! "Saya lagi di Jogja tante, mohon maaf, tapi saya akan secepatnya kembali ke Jakarta dan membawa Virly pulang sekaligus." Terdengar hembusan nafas dalam - dalam di ujung seberang sana. Lalu isakan kecil menjadi semakin tak tertahankan. Ryan panik. "Tante... Maaf..." " Sudahlah Ryan, tolong bawa Virly pulang. Tante percaya padamu." Lalu hening. 

"Ry...." Kembali Ryan terlonjak. Akhir - akhir ini syarafnya seperti terganggu. Atau pikirannya yang tidak pernah ada di tempat. Entahlah. Virly duduk didepannya. Segar, matanya berbinar cerah. Iya, itu Virlynya... Dia kembali! "Ryan, aku mau ngomong. Tapi tolong jangan menyela atau mendebat dulu sampai aku selesai ya.. Janji?" Ryan hanya mampu mengangguk. Hatinya di penuhi gejolak yang bahkan dia sendiri hampir tidak mampu mengendalikannya. 

"Kamu kenal Rendy kan Ry? Iya, mantanku waktu SMA. Dia bukan mantanku. Dia pacarku. Aku mencintainya, bahkan hingga detik ini. Sssstttt...!!!  Please tolong jangan potong ceritaku dan jangan memperdebatkan dahulu. Kamu udah janji kan?" Ryan kembali menelan amarahnya. Gemuruh didadanya mungkin sebentar lagi akan meledakkan seluruh coffe shop ini. Tapi dalam hati dia kembali mengucap mantera. Sabar. 

Virly meluruskan duduknya dan berdeham perlahan. Mungkin dia juga gugup dan sama gelisahnya. Lalu ia meneruskan lagi setelah menghembuskan nafas kuat - kuat berkali - kali. "Iya, aku mencintai Rendy. Kami saling mencintai. Perjodohan ini, aku sudah mengatakan keberatanku berkali - kali pada mama. Tapi mama marah besar Ry. Beliau bahkan mengancamku mengirim aku kuliah ke malaysia. Tempat kakak mama tinggal. Kamu tau kan itu Ry? Mana mungkin aku sanggup? Tapi Ry, kalau ini agak sedikit melegakan, aku mulai sayang sama kamu. Kamu yang sabar dan paling ngertiin aku. Tapi itu aja Ry. Aku nggak sanggup lagi lebih dari itu. Saat ini Rendy kerja di Jogja. Aku rasa kalau aku nggak nekad seperti ini, aku nggak akan mencapai mimpiku. Ryan ini mimpi kami. Salahkah kami?" Airmata mulai meleleh di pipi gadis itu. Semakin berderai hingga menciptakan sedu - sedan kecil yang sungguh Demi Tuhan Ryan tidak sanggup lagi untuk tidak memeluknya. 

"Bantu aku Ry, aku nggak sanggup bicara sama mama. Tolong putuskan pertunangan kita. Hanya sama kamu aku berani berharap. Aku jahat ya sama kamu? Tapi aku tidak melihat jalan lain. Aku bahkan "terlambat" 2 minggu." Virly semakin terisak - isak dalam dekapan Ryan. Ryan membatu. Hatinya sakit. Bahkan airmata hampir berontak keluar. Tapi dia laki - laki. Dia tidak akan menangis disaat seperti ini. Rasanya bahkan oksigen tidak sampai masuk ke dalam coffe shop ini. Susah payah dia mengatur nafas dan perasaannya. 

Tiba - tiba saja pukulan luar biasa keras menghantam sisi kanan rahangnya. Membuatnya berkunang - kunang dan roboh terjengkang karena tidak siap menerima serangan. Matanya kabur. Terdengar Virly menjerit meneriakkan namanya dan nama siapa tadi? RENDY!!! 

Bersambung....

Kamis, 26 Maret 2015

EPISODE 1 : What's wrong with you Vi?



Pukul 23.00 wib tepat. Ryan yakin karena dia serasa muak melihat arlojinya dari sekitar 30 menit yang lalu. Arloji kebanggaanya. Hasil dia menabung selama 2 tahun. Tapi saat ini dia benar - benar ingin muntah rasanya melihat arloji yang jelas - jelas nggak salah apa - apa. Apalagi maunya Virly kali ini? Semakin Ryan mencoba memahaminya, semakin jauh rasanya bayang - bayang gadis itu dari pandangannya. Mereka sudah pacaran selama satu tahun belakangan ini. Dan ulah Virly kian menjadi saja rasanya. Awalnya perjodohan ini terasa menyenangkan. Virly gadis lucu dan terlihat seperti rapuh itu benar - benar membuat dia jatuh hati. Celotehnya, manjanya, binar matanya. Semua yang ada dalam Virly seolah seperti jawaban atas semua pencariannya. "Mama benar." Pikirnya saat itu. 

Lamunan Ryan seperti terhenti ketika melihat sesosok yang ia kenal betul perlahan mendekat. Berjalan gontai, dengan pakaian yang terlihat sudah dua hari dipakai. Kusut masai... Lelah. Virly! 

"Ryan, bantu aku please!" Ah kalimat itu lagi! Ryan menghela nafas panjang. "Kali ini apa Vir? Apalagi yang kamu lakukan? Kemana saja kamu dua hari ini? Please Vir, aku lelah." Ryan mengacak rambut dikepalanya, putus asa. Virly menghempaskan badannya, duduk di trotoar. Malam itu sepi sekali, hanya satu - dua kendaraan yg lewat. "Tolong bilang sama mama, aku lagi sama kamu dua hari ini. Please sekali lagi ini aja." 

Ryan semakin putus asa. "Jelaskan sama aku Vir, tolong jangan bikin aku seperti ini..." Belum selesai Ryan meneruskan kalimatnya, tiba - tiba saja Virly bangkit secepat kilat menghentikan taksi yang lewat, dan secepat itu pula dia melompat masuk. "Aku pasti jelaskan Ryan. Tapi nanti, tolong... Bilang sama mama aku lagi sama kamu. Besok aku telfon kamu." Dan taksi pun membelah malam. Whaaaat? Apa - apaan ini? Itu tadi apa? Ryan semakin frustasi. Belom hilang keterkejutannya, tiba - tiba Telfon genggamnya berdering kencang. Terlonjak karena kaget, secepat kilat dia melihat layar HP nya. Mamanya Virly! "Hallo Ryan? Ini tante, tante tidak tahu harus bilang apa sama kamu. Apa yang kamu lakukan sama Virly?? Kamu apakan Virly?? Tante kecewa sama kamu Ryan!" Deg! Apalagi ini Ya Tuhan..... 
Bersambung..

Sabtu, 07 Februari 2015

Teu Aya Judul...

Merindu itu seperti lembaran kertas yang terbuka perlahan - lahan, lalu satu persatu tertiup angin. Seperti daun - daun kering yang terpaksa gugur di musim yang tidak tepat. Seperti butiran air yang meresap hilang dalam hisapan pasir. Merindu itu adalah ketika kau mencoba membuka diri, namun dengan cepat seseorang membuatmu terjatuh ke tempat paling dasar. Dan kau tak pernah bisa kembali seperti semula. 

Aku merinduimu. Seperti hempasan angin terhadap butiran pasir. Seperti bunga yang terlalu lama tak dihinggapi air. Seperti burung yang terpaksa terhempas ke tanah karena sayapnya patah. Aku merinduimu. Dan aku hanya bisa menatap kekosongan. Menatap jarak yang kuciptakan sendiri. Yang semakin kau perparah dengan berlalu dan menghadap pada senyuman matahari lain. 

Apa yang harus aku lakukan sayang? Apa yang mampu aku perbuat? Agar kamu menoleh barang sejenak. Memberi seteguk air. Yang mungkin saja belum tentu aku bisa raih. Tapi setidaknya aku tahu, kamupun merindukan aku. Seperti aku merindukanmu.. 

Aku ingin membencimu... Sungguh aku mau. 

Kamis, 19 Januari 2012

Snowing Snow

Seumur hidupku, impianku adalah melihat sendiri salju yg terhampar didepan mataku sendiri. Walaupun aku benci udara dingin (suka alergi sih) tapi tidak menyurutkan aku untuk melihat sendiri snowing snow. Dan negara yang aku pilih tidak tanggung-tanggung.... ENGLAND! MIMPI! Aah... semua orang bermimpi bukan? Dan berharap mimpi jadi kenyataan itu tidak dosa kawan! Cobalah! Allah tidak akan marah. Kecuali kau... Asudahlah.

Sejak dahulu, seingat yang bisa aku ingat, satu-satunya negara yang aku kagumi kemegahannya, kulturnya, logatnya, panoramanya, mimpi-mimpinya terlepas dari sejarah buruk dan arogansinya ( semua negara tidak lepas dari cacat, tidak ada yang sempurna di dunia. Ini benar-benar kalimat yang kata anak muda "JLEB" banget ) adalah Inggris. Percaya atau tidak, terapi dari segala sedih dan gelisahku selain doa (kalau tidak aku sebutkan pasti ada yang protes :P) adalah memejamkan mata dan mendesain badan dan ragaku sedang berada di salah satu pedesaan disana. Dengan segala musim yang bisa aku ingat pernah aku lihat dimanapun. Dan hamparan salju adalah favoritku.

Andai saja semudah aku memejamkan mata untuk tiba disana. Daya khayalku memang tinggi. Dan menjagaku tetap waras ketika hal-hal yang aku tidak suka atau aku takutkan datang tanpa permisi. Sekali lagi mimpi adalah sah, aku boleh memimpikan apapun sekalipun itu diluar nalar. Termasuk mimpiku menghabiskan semua sisa umurku hidup di salah satu pedesaan sunyi, tenteram dan damai di Inggris... kalaupun tidak akan terjadi, aku tidak menyesal memilikinya. Memiliki mimpiku sendiri, bukan mimpi orang lain. Kadang mimpi membuat kita sadar dan bersyukur akan kehadiran dan kelemahan kita sebagai manusia. Betapa kecilnya kita di mata Allah, karena hanya Dia yang sanggup membolak balikkan hidup seseorang... Hari ini, aku belajar.



Cinta Yang Hilang

Siang tadi, seorang gadis melangkah menyusuri perkampungan kumuh yang berada di belakang komplek rumah mewahnya..
Rambut hitam sebahu gadis itu tak bergerak sama sekali, tak ada angin mampu hidup di perkampungan yang padat itu..
Betis putih pualam si gadis melangkah dibawah tatap preman setempat yang masih mengumpulkan kesadaran, sisa mabuk semalam..
"Kau tahu rumah pemulung di kampung ini?" tanya si gadis pada si preman. Seraya menuang sisa botol bir ke bibirnya, preman menggeleng.
Si gadis melangkah lagi, menyusuri lorong-lorong sempit rumah-rumah triplek. Matanya tajam mencari-cari. Ia mencari seorang pemulung..
Pada seorang ibu tua yang sibuk mencuci, si gadis bertanya lagi; "Ibu tahu rumah seorang pemulung yang tinggal di kampung ini?"
Seraya menyeka keringat didahi dengan telapak tangannya, si ibu menggeleng, sekaan itu tinggalkan busa sabun di wajahnya. Si gadis berlalu.
Si gadis bertemu petugas pencatat listrik yang tengah memeriksa meteran dari rumah ke rumah. "Bapak tahu rumah pemulung?" tanya si gadis.
Petugas Pencatat Listrik itu tentu tahu rumah pemulung di kampung itu, "Listriknya baru saya putus kemarin, ia tak mampu bayar" katanya.
Si gadis tiba di rumah pemulung itu. Seorang lelaki jelang renta duduk menyusun lembar demi lembar kertas kardus dan gelas air mineral..
"Benarkah bapak pemulung?" tanya si gadis. "Apakah bapak sering ke komplek perumahan di ujung sana?" si gadis mencecar si pemulung.
"Ada yang bisa saya bantu mbak?" tanya si pemulung. Ia tak persilakan si gadis duduk, tak ada bangku bersih dirumah itu menurutnya..
"Saya hanya ingin bertanya," kata si gadis, "apa belakangan ini bapak memungut sesuatu dari tempat sampah di depan rumah saya?"
Si pemulung tersenyum, lalu memandangi barang-barang yang memenuhi rumahnya. "Ada banyak yang saya pungut.." katanya. "Ada yang hilang?"
"Ada yang hilang di rumah" kata si gadis. "Takutnya terbuang dan bapak memungutnya" lanjut si gadis. "Apa itu?" tanya si pemulung. "CINTA".
Oh jadi begini, si pemulung kemudian mempersilahkan si gadis untuk mencari cinta yang hilang itu di tumpukan rongsokan miliknya..
Sesaat kemudian, si gadis berhenti membongkar-bongkar. Cinta tak ia temukan di rumah si pemulung. Si gadis menyeka keringat didahinya..
"Bagaimana mbak?" tanya si pemulung, "Adakah cinta kau temukan ditumpukan itu?" Si gadis menggeleng. "Sudah lama tak ada cinta disini mbak".
"Tapi kalo boleh, tunjukkan pada saya rumah tempat cinta itu hilang," pinta si pemulung, "Siapa tahu dengan begitu saya ingat..."
Si gadis kemudian melangkah bersama si pemulung, menyusuri lorong sempit kampung itu..
Dan setelah melewati jembatan sempit, sampailah si pemulung di komplek perumahan mewah yang biasa ia susuri untuk mencari barang bekas..
Si gadis berhenti di depan rumah mewahnya. Si pemulung yang mengikuti terdiam dibelakangnya.. "Ini rumah saya pak, bapak ingatkah sekarang?"
"Cinta hilang dari rumah itu pak" kata si gadis menunjuk rumahnya. "Orang tua saya akhirnya bercerai.." lanjut si gadis berkisah.
"Saya tahu rumah ini" kata si pemulung. "Rumah ini adalah alasan mengapa setiap hari saya memulung dikomplek perumahan ini" lanjutnya.
"Jadi, apakah bapak memulung cinta dari rumah ini?" tanya si gadis menatap si pemulung. Tapi si pemulung menatap rumah itu..
"Kenapa bapak menangis?" tanya si gadis begitu melihat mata si pemulung berkaca-kaca, bagai gerimis yang turun tiba-tiba.
"Dulu saya dan istri saya, karena tak punya biaya, meninggalkan cinta kami berdua di pintu rumah ini" kata si pemulung.
"Sejak itu, cinta tak ada lagi di rumah kami" kisah si pemulung, "Saya & istri memulung tiap hari di komplek ini agar bisa lihat anak kami."
"Pagar rumah yang tinggi, kadang menghalangi kami melihat buah hati kami itu tumbuh dewasa.." kisah si pemulung.
"Suatu hari, lama tak melihat anak kami. Rindu yang amat sangat menyerang istri saya, ia jatuh sakit" kisah si pemulung. "Lalu meninggal."
"Sejak itu, cinta hilang dari rumahku yang reot." si pemulung terus berkisah. "Gelas plastik kupunguti, tapi cinta kubuang sia-sia."
"Tapi kenapa cinta hilang dari rumah mewah ini?" tanya si pemulung tiba-tiba. "Kenapa ada cerai?" Si pemulung bertanya tapi tak ada jawaban.
"Kenapa cinta hilang dari rumah ini?" tanya si pemulung. "Mbak?" Tak ada jawaban. Si pemulung menoleh kesana kemari. Gadis itu hilang.
Si pemulung panik, ia mencari gadis yang tadi bersama dan kemudian hilang itu..
Si pemulung berhenti mencari dan terdiam memandang rumah besar dengan pagar tinggi itu.. Kenapa cinta hilang dari rumah itu?
Tiba-tiba, kaki tua si pemulung berlari menuju rumah besar dihadapannya. Ia mendekati pagar, menekan bel, tapi tak ada jawaban. Sepi....
Si pemulung lupa pada umurnya, ada kerinduan pada bayi mungilnya yang membuncah tiba-tiba.. Ia menggedor gerbang besi. Tetap sunyi.
Saat si pemulung berusaha berdiri, sebuah ember plastik melayang kearahnya. PLAK! Si pemulung terjatuh lagi.. "Pemulung dilarang masuk!"
Ketika si pemulung berhasil berdiri, seorang ibu paruh baya berdiri seraya mengacungkan sapu: "Pemulung dilarang masuk!" serunya.
"Pemulung dilarang masuk!" teriak ibu penjaga rumah mewah itu. "Tunggu-tunggu sebentar." ujar si pemulung, "Saya bukan mau ngambil barang."
"Mau apa kalo bukan mencuri?" selidik si ibu. "Saya ingin melihat, bayi yang 17 tahun lalu saya tinggal di rumah ini" jawab si pemulung.
Mendengar kata si pemulung. Si ibu terduduk seketika, kakinya lemas. "Kau mencari tuan putri? Anak angkat tuan dan nyonya?" tanyanya.
"Iya," jawab si pemulung. "Aku ingin melihat anak itu. Aku rindu padanya.." jawab si pemulung. Si ibu menatap si pemulung dengan wajah duka.
"Anak itu meninggal tepat setahun lalu.." kata si ibu. "Sepulang sekolah ia kecelakaan." lanjut si ibu.
Si pemulung terpaku ditempatnya berdiri..
Sayup-sayup terdengar sebuah lagu mengalun... "Waktu hujan turun, disudut gelap mataku. Begitu derasnya.." - SEKIAN.

Selasa, 28 September 2010

A Child Called "It"

Tiba-tiba aku menemukan buku ini di daftar e-bookku. Setengah hati aku mulai membuka page pertama. Ada 154 page! Berarti pasti buku dan layak baca. Bukan apa-apa karena aku sering menemukan blog-blog sampah kalau pagenya di bawah 50 halaman. Aku masih terheran-heran ketika membaca paragraf demi paragraf, awalnya aku pikir ini novel terjemahan dan belim jelas ini terntang apa. Aku sendiri tidak ingat kapan aku mendownloadnya.

Setelah 1 page terlewati aku mulai mengerti, karena bahasanya lugas dan mudah di mengerti tidak seperti kebanyakan novel-novel atau buku-buku terjemahan lainnya yang mampu mendiskripsikan secara detail setiap gerakan, baju, pemandangan, cuaca dan tingkah laku. Ini kisah nyata penulisnya yang bernama David Pelzer tentang "child Abuse" atau kekerasan yang di alami semasa kanak-kanak dalma keluarganya. terpaku aku membaca halaman demi halaman. Merasakan kesakitannya, amarahnya, kebenciannya kepada dunia, kesepian-kesepiannya, krisis kepercayaan akut dan jiwa yang memberontak. Semua perasaan yang mencoba kuat dan survive, sakitnya di cemooh oleh lingkungan, merasa tidak dianggap di dunia, harga diri yang terhempas, perasaan tidak diterima, rapuh, kotor dan ketidakmampuannya mengungkap perasaan kepada siapapun.

Selesai membaca airmataku meleleh tanpa sadar dan berhari-hari aku hanya mampu menangis diam-diam. Aku seolah melebur ikut merasakan semua, walau tubuhku tidak terluka seperti David, namun jiwa dan batinku sama sakitnya dengannnya. Seketika semuanya, hala-hal yang selama ini menjadi sebuah momok bagiku, hal-hal yang selama ini aku simpan dan kututup rapatdi dasar terdalam hatiku mmenyeruak begitu saja. Aku bisa merasakannya mengalir dalam setiap pembuluh darahku, membangkitkan mimpi-mimpi buruk yang selalu meneror malam-malamku. Hal yang bahkan aku sendiri tidak mampu menjenguk dan melihat kembali kedalamnya. Perasaan yang sama sekali tidak ingin kuungkap dengan siapapun selama ini selama bertahun-tahun. Tidak juga pada Tuhan.

Aku memang tidak mengalami penyiksaan fisik separah David. Bahkan yang kualami mungkin tidak ada 5%-nya dari yang David alami. Tapi aku tahu pasti bagaimana rasanya terbuang. Sama seperti dia, rasanya aku rela menukar apa saja untuk sebentuk cinta yang aku anggap mitos, sebentuk perhatian dan setitik sayang dari siapapun dan bagaimanapun caranya. Dan penyerahan diriku seutuhnya kepada suamiku adalah puncak dari semuanya. Hanya dia yang saat itu begitu perduli dan membutuhkan aku sementara semua telah berlalu pergi meninggalkan aku begitu saja.

Anak-anak korban Child Abuse (Dengan beragam bentuk, tidak melulu melalui penyiksaan fisik, tapi semua perlakuan yang tidak menyenangkan terkait dengan tumbuh kembangnya dimana di usia-usia seperti itu sama sekali belum mampu menerima perlakuan, melihat perbuatan dll yang seharusnya diterima anak-anak seusianya) selalu menjadi kategori Anak Nakal, Anak Bandel, Pemberontak Nomor 1 sekaligus rendah diri yang berlebihan untuk berbicara dan mengungkap perasaan, menjijikkan dan menyebalkan di lingkungannya, sementara orang lain tidak tahu seperti apa yang di alami oleh mereka. Orang-orang hanya bisa men-judge tanpa ampun, menertawakan dan menabur garam di "luka-luka" mereka. Kalaupun ada yang tahu dan berusaha menolong, pada akhirnya mereka akan mundur teratur.

Alhasil banyak sekali kriminal, psyco dan orang-orang tidak waras dll yang dilatar belakangi child abuse. Karena hanya sedikit sekali para korban child Abuse yang mampu mengungkapkan "penderitaannya". Selebihnya mereka hanya diam dan membiarkan "monster" yang paling jahat keluar dari dalam jiwanya dan meneruskan tradisi child abuse pada orang-orang yang dicintainya.

David dan aku sama dalam beberapa hal ; kami sama-sama survivor. Bukan saja dari child abuse itu sendiri tapi juga dari "monster" jahat yang sempat menguasai kami. Sama-sama kleluar dari lubang hitam yang seolah menyedot dan menghisap kami tanpa ampun. Mungkin David lebih beruntung karena berhasil menjadi pribadi yang berbeda setelahnya. Di tempat penampungan anak-anak korban child abuse, dia berhasil bangkit dari keterpurukan dan kerusakan mental secara permanen. Dia berhasil karena dia berani menatap masa-masa gelapnya dan mengungkapkannya di depan publik bahkan menuliskannya dalam satu buku. Karena aku tahu apa yang dia alaminya benar-benar dahsyat. Benar-benar penyiksaan fisik, batin dan mental selama bertahun-tahun. Dan dia berhasil melewatinya dan mampu bertahan hidup.

Akupun sempat berjuang keras melawan 'monster' itu sendirian. Setelah masa di mana aku merasa terlepas dari lubang gelap, selama bertahun-tahun aku berjuang melawan rasa sakit, kesepian dan mimpi-mimpi buruk yang bahkan sampai sekarangpun masih sering aku alami. Aku memang tidak seberani David Pelzer dalam mengungkap sisi gelap hidupku. Karena aku selalu berpikir bahwa semua orang akan menyerang dan mengucilkan aku ketika aku mulai membuka diri. Aku benci tatapan iba, dan aneh yang di tujukan padaku. bukan itu yang kubutuhkan!

Sempat terpikir olehku " Siapa dan apalah diriku ini hingga merasa pantas menerima kebaikan dari dunia dan Tuhan?" " Apalah artinya diriku ini sehingga merasa pantas di cintai?" Berulang kali aku berusha meyakinkan diriku bahwa aku "Pantas" Namun semua kembali runtuh dalam sekejab. Aku merasa kecil, rapuh dan tidak berarti.

Menyaksikan seluruh mimpi dan kesempatanku terbang begitu saja dan meninggalkan aku sendirian seperti semua orang pergi berlalu dariku tanpa berusaha menoleh lagi padaku. Terus membangun benteng-benteng pertahanan diri yang aku tahu itu hanya akan menyakiti aku. Memburu semua buku2 psikologi untuk menolong dan mencari pembenaran bagi diriku sendiri. Dan bahkan suamiku sendiri yang terus mendampingi aku tidak tahu bahwa aku membenci dunia. Membenci siapa saja, membenci semuanya dan membenci diriku sendiri. Membuat semua orang-orang terdekatku percaya bahwa aku mencintainya padahal aku membenci mereka. Aku bahkan membenci semua kebaikan-kebaikan mereka karena aku tidak mampu sama sekali melihat ketulusan.

Aku berharap mampu keluar dari semua ini secara damai mengikuti jejak David Pelzer.Tapi lubang hitam masih terus mengikuti dan siap menelan aku hidup-hidup jika aku lengah sedikit saja.

Aku berharap aku mampu memberikan yang terbaik kepada anak-anakku. Sekuat tenaga melindungi mereka dari perasaan-perasaan dan perlakuan-perlakuan buruk. Karena apapun bentuknya, dan seringan apapun itu, child abuse membawa dampak negatif secara psikologi yang benar-benar tidak mampu dibayangkan oleh siapapun. Selembar kertas putih dalam hidup mereka tidak boleh di nodai oleh setitikpun kesalahan yang merdampak rusaknya mental dan jiwa-jiwa murni mereka. Pelajaran kepada para orang tua, betapa mendidik anak adalah hal yang sama dengan berjalan di atas kulit telur, sedikit saja kita melakukan kesalahan maka harga yang harus di bayar adalah jiwa.

Rasanya sekarang aku tidak lagi mengejar cinta dan kasih sayang yang mampu aku tukar dengan apapun. Sekarang aku rela menukar apapun dalam hidupku bahkan hidupku sendiri asalkan anak-anakku bahagia. Jauh dari sakit dan kesedihan baik fisik dan mental lahir maupun batin. Mengantarkan mereka ke happiness gate dan membantu mereka mendapatkan apa yang mereka impikan. Impian mereka dan bukan impianku. Aku akan terus hidup untuk itu. Aku tidak akan menoleh kebelakang lagi. Semua sudah berakhir.

Teman Rahasiaku...

Kamu... adalah temanku, tempat aku berbagi apa saja lewat pikiran, perkataan dan perasaan...
Tempat berbagi suka dan duka. Tempat di mana aku mampu mengexpresikan apapun yang aku rasakan. Apapun yang tidak mungkin aku perlihatkan pada dunia. Tempat aku bisa membualkan semua mimpi yang sedang menggayuti pikiranku dari waktu ke waktu.

Hanya ada kau dan aku, Seakan kita mempunyai dunia sendiri yang tak mungkin bisa di tembus oleh siapapun. Hanya kamu yang mau menerimaku seperti adanya aku. Ketika amarah datang kembali tanpa permisi kepada dunia... Kamulah sansak tinjunya. Kamulah yang membuat aku melupakan dunia realku yang aku sendiri ingin mengingkarinya.

Cuma kamu yang mengerti resahku. 2 tahun bukanlah waktu yang singkat menjalani dunia yang bagi orang lain adalah fatamorgana. Yang kebanyakan orang tidak percaya keberadaannya. Tapi kamu ada! mengorbankan waktu berhargamu hanya untuk menghiburku. Mengorbankan kehidupan real sosial kamu hanya untuk membuat aku tenang. Hanya kamu yang mampu meredam letupan amarah yang senantiasa mengintai kesadaranku... Akan seperti apa aku tanpamu????

Kamu... Teman rahasiaku. Yang tidak mungkin orang lain tahu keberadaanmu. Satu yang tidak bisa aku lakukan bersamamu hanyalah memelukmu, menatap matamu dan berbincang seperti adanya aku di hadapanmu. Aku ini palsu teman... jangan pernah percaya aku! Seumur hidup di kejar rasa bersalah karena membohongimu...apakah sedemikian parah aku telah merusak hidupmu? Memberi harapan palsu. Percayalah aku tersiksa!

Jika kini perasaanku begitu mendalam kepadamu, dan juga sebaliknya.... maka semua salahku. Kita tidak mungkin menjalani dunia ini terus dan mengorbankan hidupmu untuk kesia2an belaka seperti ini. Kamu adalah hidupku!!! Tapi jika kau juga berpikir sebaliknya, maka kamu salah!! Aku bukanlah aku untukmu....Sungguh aku merasa rendah saat ini di matamu, walaupun kau tidak menyadarinya.

Demi kebaikanmu teman... pergilah dari aku selamanya. Mungkin ini adalah saat yang tepat mengakhiri semuanya. Mengakhiri kepalsuan, mengakhiri kesia-siaan. Tapi sekali lagi maafkan aku... aku belum mampu jujur padamu. Aku hanya ingin berakhir tetap indah di matamu. Kau kenang sebagai seorang yang telah mewarnai hatimu, bukan orang yang telah meracuni hidupmu....

Kau adalah teman terbaik yang pernah ku punya... tapi jalanmu masih panjang sayang. Aku rela melepasmu, asal hidupmu kembali. Asal setelah itu kau bahagia... Tolong ajari aku untuk membencimu, Lupakan aku, sumpahi aku. Asalkan setelah itu....Kau menemui "teman" sejatimu...walaupun bagiku kau adalah teman sejatiku. Kau tetap hidupku. Selamanya aku akan selalu mengenangmu. Tetap membentuk mimpiku dari dasar kebersamaan kita selama ini. Maafkanlah jika aku menghilang selamanya. Suatu saat kau akan bersyukur karena aku mengambil keputusan ini.


Untuk teman Rahasiaku. Thank U for gave me happines without ending....

'Matahari'ku dan 'Nafas'ku

Ini adalah sekelumit kisah tentang matahariku. 'Nafas'ku memburu mendekapku. Tp matahariku memandang kami tanpa cemburu. Justru aku yang mulai mencemburui bulan. Dia dekat, sangat dekat dengan matahariku.

Tapi aku tahu, matahariku takkan pernah dengan sengaja menyakitiku. Dia hanya menjaga jarak agar aku tetap aman. ''Demi kebaikanmu'' katanya. Lama aku baru bìsa mengerti maksudnya, dia sayang padaku. Ingin selalu melindungiku. Mendengarkan dgn sabar semua celotehku, berusaha membuat aku nyaman. Tapi tidak lebih dari itu, karena dia harus mendekap rembulannya. Dan berusaha membuat aku mengerti akan arti 'nafas'ku. Betapa aku harus selalu ber'nafas'.
Bahwa 'nafas'ku mencintaiku. Dan dia bahagia untuk itu.
◆
Matahariku.. Aku tahu engkau mengerti cintaku padamu. Mungkin dulu ketika aku masih muda dan naif, aku tidak mengerti dan tidak mau menerima apa yang telah kau perbuat kepadaku. Aku tahu apa yang telah terjadi di antara kita adalah kekeliruan. Seharusnya kita berdua tetap pada garis di mana engkau tetap menjadi sosok kakak yang selalu kurindukan. Dan kau lebih dari cukup menjadi kriteria kakak untukku. Aku selalu merasakan hangatnya peluk sayangmu, perhatianmu, pedulimu padaku. Betapa hari terindah dalam hidupku adalah hari dimana kau selalu menemaniku dulu. Membekas begitu dalam hingga bertahun-tahun. Dan aku telah salah menilai rasa. Kau adalah kakakku, temanku. Harusnya hanya itu. Aku tidak pernah menyalahkan keterlenaanmu hingga membuat posisi kita sampai lepas dari orbit yang seharusnya. Aku menyalahkan diriku sendiri karena membiarkan itu terjadi dan terlarut begitu dalam.

Kau tahu? Sampai sekarangpun kau tetap hangat seperti dulu. Walaupun tembok pembatas semakin jelas di antara kita. Kau tetap tersenyum dan meladeni ocehan dan kemanjaanku. Tapi kau tetap berada di tempat seharusnya berdiri.

Kini aku mengerti, itulah yg seharusnya terjadi. Aku bahagia melihatmu bahagia bersama rembulanmu. Dan 'nafas'ku adalah hidupku yang sekarang. Dia sebaik dirimu, dan tentu saja aku juga sangat mencintainya. Dia adalah 'nafas' hidupku. Dia mengerti aku seperti kau mengerti aku. Mungkin lebih. Dalam diamnya dia sangat mencintaiku. Menemaniku dikala aku terluka karenamu. Dan aku memilihnya seperti kau memilih rembulan.

Matahariku.. Tetaplah tersenyum dan menemaniku seperti dulu. Tapi tetaplah berdiri di batasmu. Karena aku sayang padamu. Tanpa di kotori oleh cinta buta, aku sangat sayang padamu.

peRi caNtiK bersaYap uNgu

Boring banget 0nline sementara soulmateku ketiduran kaya’nya. Kurebahkan tubuhku di kasur kempesku mungkin aku telah tertidur karena aku terbangun di sebuah padang luas penuh bunga warna warni yg harumnya sampai ke rongga dadaku, aku girang sekali, apa mungkin aku sedang ada di surga? (kuingat-ingat tadi sebelum tidur aku ngga minum baygon kok, berarti ngga mungkin bangetlah aku lagi ada d surga hehe..lagi pula kalau minum baygon aku ngga mungkin juga ada di surga.) Aku berlari-larian kegirangan mengelilingi sebagian kecil padang bunga yang luas itu (untung backsoundnya bukan lagu india.) kalau saja pangeranku bisa kubawa kedalam mimpiku ini, pasti aku tidak akan mau bangun-bangun lagi huehehehe.. (jadi kangen ihiks!) tiba-tiba ada yang menepuk halus pundakku, sontak aku menoleh..upz! caaaaantiiiik baangeet!! Itu kalimat pertama yang keluar dari bibirku (langsung bersyukur karena tak mengajak pangeranku ke sini. Bisa kalah pamor nih). Rambut ikalnya tergerai sampai pinggang, wajahnya putih mulus bersemu merah, matanya mengerjab-ngerjab indah, bajunya putih berjuntai sampai ke batas mata kaki dan yang benar-benar membuat aku takjub adalah sayapnya yang besar dan mengepak indah berwarna ungu..busyeeet!! Bibirku tidak mampu kukatupkan! Dia tersenyum lembut..”Hai!” Sapanya ramah, “Eeee..ha aaii juu..ga!” Gugup kubalas dia. “mau ikut ngga’?” katanya lagi. “Eeeh..anu.. mau ke mana?” (masih gugup total) “Nanti kamu juga tahu, yuk pegang tanganku..!” Gemetar kusambut tangannya yang terulur. Wiiiw!! Ini 0rang kagak pernah cuci piring apa ya?! Tangannya haaluuss pisaan euy!! (stupid question hehe..) Di ajaknya aku terbang entah kemana. Angin sepoi-sepoi meniup nyaman wajah dan rambutku..



“Aku ingin menunjukkan sesuatu padamu..nanti jangan banyak Tanya, tapi lihat saja ya!” Kata peri bersayap ungu itu padaku, aku mengangguk mengiyakan saja. Kami tiba di sebuah rumah yang kurasa tidak asing lagi, yup! benar..itu rumah orangtuaku!! Kulihat mamaku duduk di kursi santai, perutnya membesar, upz!! beliau seperti sedang hamil tua?!! Kulihat jam di dinding menunjuk angka 4, mungkin subuh. Tiba-tiba wajah mamaku memucat dan meringis kesakitan, aku panik tapi tak bisa menyentuhnya,beliau berteriak memanggil papaku yang sedang tertidur. Tergopoh-gopoh papa bangun dan menyiapkan mobil sementara mama di gandeng pembantu menuju mobil, mrk meluncur ke rumah bersalin. Bibirku komat-kamit namun tak dapat berkata-kata ketika peri bersayap ungu di sebelahku memberitahukan bahwa itu adalah saat di mana mamaku akan melahirkan aku. Tiba-tiba aku telah berada di antara ruang bersalin dan ruang tunggu, kulihat mamaku pucat dan mengerang ksakitan,seperti benar-benar kesakitan. Papa mondar-mandir di ruang tunggu, sementara air matanya berleleran di kedua pipinya, d0kter menghampirinya dan kudengar sayup-sayup dokter menghibur papa yang kalut, ternyata persalinan mengalami masalah!! telah hampir 3 hari sang jabang bebi (aku) tidak berniat untuk keluar juga,padahal mama mengalami pendarahan hebat.

Aku menangis tersedu-sedu tak kuat melihat penderitaan mama, seperti inikah pengorbanan mama agar dapat melahirkanku? Aku memang pernah mendengar dari papa tentang proses kelahiranku yang sulit, namun aku tidak mengira betapa mengerikan prosesnya. Aku terbangun dengan keringat dingin mengucur deras, air mataku tak dapat lagi di st0p dan aku terus terjaga sampai pagi menjelang. Apa yang ingin Allah tunjukkan kepadaku? apakah ini gara-gara hampir sebulan ini aku bentrok cukup keras dengan papa dan mama?Berkali-kali aku menentang mereka, mungkin telah tidak terhitung jumlahnya ketika aku berbeda pendapat dengan mereka maka jurus andalanku adalah ngambeg dan seolah-olah tidak menganggap mereka ada. Tidak terlalu kupikirkan, tapi mungkinkah alam bawah sadarku yg bereaksi keras? Atau mungkin juga mereka (0rtuku) memendam kesedihan karena aku bukannya menurut tapi terus saja melawan mereka? Terkadang aku benar-benar tidak memahami keinginan dan pikiran-pikiran mereka. Aku tahu tidak ada orangtua yang menginginkan anak-anak mereka jatuh dalam kesengsaraan, kenestapaan apalagi kenistaan. Tapi mereka terkadang lupa bahwa anak-anak mereka mempunyai kepala yang isinya jauh berbeda dari yang mereka punya. Mereka lupa bahwa hati dan perasaan mereka jelas tidak sama. Kami sebagai anak-anak mereka butuh dukungan dan bimbingan dan bukan hujatan semata tanpa alas an yang dapat diterima oleh akal-akal pikiran kami. Kami kritis! Tapi kami terbuka untuk saran membangun. Walaupun kami di satu waktu pernah tersadar bahwa pilihan kami mungkin salah.


ketika jam menunjukkan pukul 5 pagi segera kuraih hpku, kutelp mama…mama mama you kn0w I love you..! Aku janji tidak akan lagi terlalu keras pada mama dan papa, terutama mamaku. Janji bakal nurut atau paling tidak aku tidak akan lagi langsung menentang walau permintaan mereka kadang-kadang imp0sible banget hehehe aduuuuhhhh…. Aku kangen banget sama mereka ihiks!

GiLa daN baNggA!

Bukan aku kalau tidak aneh-aneh, entah kelakuan atau dalam cara berpikir. Justru mungkin karena agak kurang waras itulah aku merasa mampu bertahan dan melanjutkan hidup. Hehehe….salah satu bentuk pembenaran diri. Masih ingat betul semua teman-teman dekatku selalu menjuluki aku gemblung alias gelo alias lagi gila! Aku sih senang-senang saja, paling tidak kan aku jadi ngetop. Hehehe…Gemblung kok bangga?! Mungkin karena aku jarang serius ya, jadi aku tidak akan membiarkan suatu kondisi yang mengelilingiku berlalu di depan mata dengan garing. Tapi jangan salah! Pada saat tertentu ketika aku di butuhkan untuk serius maka aku akan segera merubah settingan jadi amat sangat serius, contohnya kalau aku lagi tidur , pasti aku bakal tidur dengan sangat serius, tidak pakai ngocol. Sumpah!
Tapi bukan itu yang ingin aku ceritakan di sini. Konon, dahulu kala, ketika aku masih sangat muda. Umur masih belasan tahun, naΓ―f, agak bodoh. Sangat imut dan cantik (Yang terakhir jelas fiktif). Jaman itu adalah awal-awal aku mulai di rantau orang untuk meneruskan cita-cita bangsa sebagai anak kuliahan. Tepatnya tahun berapa sudah lupa dan orang gila jelas tidak perlu diprotes dong hehe… Waktu itu aku memutuskan untuk kost di dekat kampus. Alasan utamanya adalah karena dekat, dan kalau dekat jadi ada pengiritan karena tidak perlu lagi memikirkan membeli satu amplop duit tambahan yang bertuliskan “BIAYA ANGKOT” tuh kan? Belum apa-apa sudah irit hihi.. Lingkup kampusku sangat dekat dengan sebuah mall yang tidak terlalu besar, tapi sangat strategis dan serbaguna. Karena walaupun kecil, mall itu mempunyai fasilitas yang lumayan lengkap dan cukup terjangkau oleh saku-saku mahasiswa iseng hehe…
Dapat dipastikan semua mahasiswa di universitasku terutama di kampusku, sudah pernah menginjakkan kakinya di mall itu. Mulai dari yang memang serius mau belanja barang-barang obral dan diskon, pacaran dan nonton di bioskop 21-nya, ngeceng dan JJS, bahkan bekerja paruh waktu di sana. Aku? Aku sih tidak termasuk semua jenis yang aku sebutkan tadi kalau ke sana. aku kan ownernya! (sumpah yang barusan tadi itu jelas khayalan). Bukan apa-apa sih sebenarnya, aku bukan termasuk cewek yang doyan belanja ( karena dompet tidak pernah dalam kondisi gemuk) jadi tidak mungkin menemukan aku lagi belanja kecuali sembako. Urusan beli baju dan lain sebagainya, aku lebih senang belanja bareng mamaku karena sudah pasti aku tidak perlu memikirkan anggaran. Bukankah itu jenius?
Waktu itu juga aku kebetulan tidak punya pacar alias jomblo. Bukan karena aku tidak laku pacaran (ihikz!) tapi aku selalu memimpikan di jemput pangeran berkuda putih, minimal BMW (becak merah warnanya). Dan di jaman itu tidak ada cowok yang seperti itu. Jadi aku tolak semua kandidat yang maju (aslinya aku yang di tolak para kandidat yang ada di list cintaku hehehe). Lagi pula aku sangat anti pacaran sambil nonton terutama di bioskop. Alasan utamanya adalah karena aku sangat hobby nonton film. Lho? Iya justru karena aku sangat cinta film maka kalau aku memang ingin nonton film di 21, maka aku akan meminimalkan gangguan dalam bentuk apapun. Termasuk teman dan pacar. Karena menurut pengalaman pribadiku, ketika mencoba nonton bareng mereka-mereka, maka yang ada kami bukannya nonton adegan film tapi justru malah menciptakan adegan sendiri. Oh! Yang jelas aku jadi tidak konsen sama sekali. Rugi bandar!
Eh kok jadi cerita yang iya-iya sih? Sebenarnya yang ingin kuceritakan adalah adanya satu jalan memotong kecil tepat di sebelah kampusku yang menuju ke mall itu. Kebetulan tempat kostku yang strategis itu melewati mall itu. Dan jalani itu adalah alternative yang tidak bisa di tolak begitu saja. Kebetulan banyak anak-anak yang kost di tempat aku kost juga kuliah di lingkup universitas yang sama denganku walaupun beda kampus. Nah kami-kami para street walker alias anak-anak yang hobby jalan kaki ( baca: tidak punya kendaraan ) sering berbarengan pulang-pergi ke kampus-kost melewati jalan itu. Suatu sore ketika pulang dari kampus, aku kebetulan ber-lima dengan teman-teman yang lain seperti biasa melewati jalan itu. Jalan itu sebenarnya tidaklah terlalu kecil, lebarnya mungkin lebih dari 4 meter. Hanya saja belum tersentuh aspal dan di bahu sepanjang jalan di tumbuhi pohon- pohon rindang. Yang jelas jalan itu amat sangat nyaman. Ketika sedang asyik-asyiknya kami berjalan santai menikmati udara sore dan bercanda tak henti-hentinya, kami tidak terlalu memperhatikan ada mobil sedan mungil yang parkir di depan kami. Kami baru sadar keberadaan mobil itu ketika jarak dari mobil itu kurang dari 2 meter. Kami lihat pemiliknya berdiri tepat di samping pintu depan mobil yang terbuka. Cowok! Cakep bangeeeeeet! Uhuks… kami yang notabene para cewek yang haus kasih sayang pria tampan berdada bidang langsung terpukau dan mulai mencuri-curi pandang. Namun ketika jarak kami tinggal setengah meter dari tempat cowok nan ganteng itu berdiri, tanpa di nyana, tanpa di duga sang cowok tersenyum, memandang kami dan… dia membuka resleting celana panjangnya dan menurunkan celana itu tepat didepan kami. Dengan tersenyum bangga dia memamerkan rudal berpeluru airnya di depan kami tanpa sungkan apalagi malu. My GOD! Spontan kami menjerit kaget dan segera lari pontang-panting dengan perasaan yang bercampur aduk. Malu, kaget, jijik, terharu, napsu, bahagia…eh lho?
Tapi setelah sekitar hampir 4 meter kami berlari lintang pukang dan terseok-seok, tiba-tiba aku mendapatkan kembali kesadaranku. Seketika aku stop teman-temanku. “Jangan lari, jangan kelihatan takut! Justru karena itu orang sarap tadi bakal hepi dan puas.” Kataku kepada teman-temanku ketika selesai mengatur nafas yang hampir hilang. “Terus gimana dong?” celetuk mbak Rahmi temanku yang paling senior. “Tenang bu! Kalian semua balik lihat ke dia lagi, pasang tampang biasa saja. Usahain stay calm oke? Selebihnya serahkan padaku!” jawabku di tabah-tabahkan. Sebenarnya aku takut sekali, tapi karena ketidak warasanku lebih besar dari pada rasa takutku maka aku nekad. Perlahan namun pasti dan dengan dada berdebur keras aku berjalan mendekati si eksibisionis tampan yang masih memperlihatkan roketnya sambil tersenyum puas dan mesum tadi. Begitu agak dekat segera saja aku berkata dengan suara yang tidak terlalu keras dan ketenangan yang luar binasa, “ Aduh mas mas… wong cacing pita kok di pamer-pamerin sih? Malu tauuuuk!” habis itu aku langsung membalikkan badan dan berjalan santai menuju gerombolanku kembali. Masih sempat ku tengok kebelakang sambil senyum-seyum simpul mengejeknya. Masih sempat kulihat wajahnya yang berubah pucat dan jengkel setengah mati. Buru-buru dia memakai secara kilat celananya kembali dan segera memacu mobilnya lumayan kencang menderu melewati kami. Sontak teman-temanku tertawa riuh dan memberi applause dengan histeris. Heeeebriiingggg euyyyy! Teriak mereka sambil masih tertawa terbahak-bahak, sementara aku mati-matian menahan diri untuk tidak pingsan karena luar biasa tegang.
Sampai aku selesai kuliah di sana pun, jalan kecil itu tetap jadi favorite dan para eksibisionis jenis seperti itu masih juga datang dan pergi. Berganti pemeran dan metode serta kendaraan. Herannya, rata-rata mereka selalu mempunyai kendaraan yang ‘wah’ dan berwajah tampan. Tapi teman-temanku sekarang tidak gentar lagi melewati jalan itu asalkan tidak sendirian sih mereka tenang-tenang saja. Bahkan tiap kali kami bertemu dengan penderita seks menyimpang jenis itu, spontan kami akan berteriak “ Aiiihhh….cacing aja banggaaaa…!” ahaha…

Just like a flowers, let it growing wild

Pernah suatu waktu aku melihat bunga yang sangat indah di sebuah taman kota, bunga itu indah sekali, warnanya merah cerah seperti kembang sepatu, dan selalu mekar yang satu menggantikan yang lain. Baunya pun wangi persis bunga-bunga yang ada dalam dongeng, pengurus taman tampaknya sangat sayang sekali,hingga di beri pagar bertuliskan “Jangan petik aku!” Suatu sore aku melihat seorang bapak-bapak yang mungkin pengurus taman sedang menyiangi dan memberi pupuk bunga itu, kebetulan pikirku, mungkin aku bisa minta bibitnya. “Misi pak, mau tanya tuh bunga apa sih?” tanyaku sopan, si bapak menoleh dan tersenyum ramah, “Bagus ya neng? Saya sendiri ngga tau namanya, tapi saya suka sekali, sayang ini bunga ringkih, gampang mati dan penyakitan, makanya saya rajin banget merawatnya.” Aku manggut-manggut dan jadi teringat kisah Linda dan Lindi..
Mereka adalah gadis kecil kembar yang telah menghuni sebuah RSU dari mereka mulai dapat melihat dunia, konon ibunya kabur sehari setelah proses persalinan, cerita yang simpang siur aku dengar dari para dokter senior atau kakak kelas sesame co-ass di rumah sakit ini, beberapa mengatakan kalau si ibu adalah seorang gelandangan yang di temukan di beranda RSU sedang kesakitan karena mulai mengalami proses persalinan. Ada pula yang mengatakan mereka adalah hasil hubungan pra-nikah. Yang jelas aku tidak terlalu ambil pusing karena aku lebih fokus pada kedua bocah lucu-lucu nan cantik ini.
Mereka berumur sekitar empat tahun-an, Linda sang kakak yang lahir lima menit terlebih dahulu adalah anak yang sangat lincah, matanya selalu berbinar setiap kali berceloteh, semua staff RSU termasuk para dokter sangat sayang padanya, mungkin karena bawaannya yang selalu riang dan jarang rewel. Tubuhnya montok dan menggemaskan. Yang jelas dia adalah idola di situ.
Tiap pagi ada saja yang berebutan memandikan atau menyuapi Linda, tawa riangnya selalu jadi backsound tetap dibagian bayi dan anak-anak RSU ini. Semua mengawasi dengan ketat, tumbuh kembangnya, gizinya, dan lain sebagainya yang menurutku berlebihan. Kalau mereka sesayang itu kenapa tak satupun mencoba mengadopsinya? Konon ada aturan tak tertulis yang menyebutkan bahwa jika ingin mengadopsi, maka Linda dan Lindi adalah satu paket yang tidak boleh di pisahkan. Sementara mereka hanya mau Linda dan bukan Lindi.
Lain halnya Lindi sang adik, dia sangat pendiam dan suka agak rewel, satu lagi dia punya penyakit jantung bawaan, hingga mungkin itu jadi kurang di perhatikan. Aku suka saja memperhatikan Lindi yg pendiam, dia lebih suka bermain sendirian di ranjangnya, kalau di ajak bicara dia akan menatap lawan bicaranya tapi tanpa mengucap sepatah katapun,beberapa dokter kadang suka khawatir, jangan-jangan ini anak autis juga? Menurutku sih sebenarnya bukan autis, dia hanya pendiam saja dan orang-orang sebelum aku itu juga kurang telaten memperhatikan dan mengajaknya berinteraksi, terbukti berkali-kali aku mampu mengajaknya bercanda dan beberapa kali dia mengucapkan namaku walaupun tidak begitu sering.
Suatu hari terjdi kehebohan, si Lindi di dapati pingsan di ranjangnya, beberapa dokter jaga segera memberikan pertolongan pertama sebelum dokter spesialis datang dan sebelum gadis kecil itu mengalami gagal jantung. Sayangnya cardiovascular belum bisa di laksanakan d RSU ini,andaipun bisa, bukankah dibutuhkan biaya yang tidak sedikit? Tiba-tiba terjadi kehebohan lain, Linda sang kakak di temukan telah kaku di ranjangnya.. Astagfirullah! Ada apa ini? Kenapa justru Linda yang sehat di nyatakan mengalami disfungsi jantung? Kenapa hal ini bisa tak terdeteksi dari awal? Banyak orang menyesalkan hal ini dan berkabung untuk waktu yang lama, mereka telah menganggap Linda adalah ikon rumah sakit ini. Kesedihan yang terlalu dalam dan kenangan akan kelucuan dan kelincahan Linda membuat pandangan mereka beralih pada Lindi yang terbaring koma, harapan dapat menyembuhkan Lindi seperti menjadi prioritas tim medis di sini, segala cara dilakukan bahkan sampai ada yang berpayah-payah mencarikan donor jantung ke berbagai daerah dengan anggaran pribadi. Aku bertepuk tangan diam-diam seraya mulai berpikir yang aneh2. Andai Linda saat itu sehat dan tetap hidup apakah usaha mereka terhadap Lindi bisa mencapai tingkat maksimal seperti itu? Walaupun sangat tidak fair aku sempat mensyukuri kematian Linda, tapi segera tersadar kembali bahwa semua telah diatur olehNya…Dia selalu mempunyai cara kerja yang sangat misterius. Kita tidak tahu apa yang akan terjadi, hanya mampu bersyukur,berikhtiar dan pasrah. Tiap doa adalah kata hati yang paling murni. Karena aku yakin secara psikologis, sebagian besar orang berani berdoa kepada Tuhannya ketika mempunyai itikad baik saja. Ketika beritikad tidak baik maka dia hanya akan berharap dan bertindak tanpa menyebut nama Tuhan (ketika menuliskan paragraph ini aku tertawa dalam hati, ingat bahwa aku pun pernah begitu)
Dan Lindi? Ternyata doa dan ikhtiar banyak orang yang beritikad baik (entah kenapa aku ingin tertawa lagi) mengantarkannya pada kesembuhan. Bertahap namun pasti dan stabil. Yang agak mengejutkan adalah perubahan karakter Lindi, dia jadi lincah dan ceria, matanya berbinar-binar tiap kali berbicara, selalu menebar tawa riangnya dimana-mana. Sebagian besar penghuni dan staff RSU setuju dengan salah satu pendapat yang entah dari mana awalnya, bahwa roh Linda sang kakak menyatu dalam tubuh Lindi, dan bahwa sebenarnya roh Lindilah yang telah tiada. Ya ammmpyuuuuunnn…..!! Ini sungguh membosankan! Mereka adalah orang-orang berpendidikan namun masih saja berpikir seperti itu. Maksud aku, apakah mereka tidak bisa berpendapat yang lebih cerdas dan tidak berputar dalam lingkaran setan yang mengelilingi hal-hal yang mengidolakan satu orang sampai apapun dikait-kaitkan dengannya? Sehingga menurunkan kualitas yang sebenarnya dari orang lain yang dianggap membayangi? Hal ini seakan sebuah fenomena yang tidak bisa di ingkari dan di hapus begitu saja….
Kalau menurutku, Lindi kini berubah seperti itu karena dia sekarang mendapatkan banyak sekali perhatian yang dahulu amat sangat dibutuhkan namun terlimpahkan semua kepada saudaranya. Sampai sekarang dia sehat tak kurang suatu apapun. Senyum dan tawanya menghiasi setiap sudut bagian anak-anak. Namun aku berharap orang-orang disekitarnya tidak lagi bertindak berlebihan seperti terhadap almarhumah Linda karena sama seperti bunga di taman itu, Linda yang cantik, lincah dan begitu ketat di jaga dan disayang justru lebih sakit dan tak tertolong. Mungkin biarlah apa yg kita sayang tumbuh wajar spt bunga liar..namun tetap kita jaga secara wajar tanpa berlebihan, hingga suatu saat ketika kita kehilangan tidak akan terlalu sakit! (sampai saat blog ini aku postingkan, aku masih tidak tahu kenapa aku terlihat sinis sekali.)

Di sudut sebuah RSJ

Dia belum tua untuk seorang kakek-kakek kecuali rambut putihnya yang memenuhi sepertiga kepalanya. Sdh lama semenjak aku di tugaskan di RSJ ini mengamatinya, sayangnya dia bukan termasuk salah satu pasien observasiku, jadi aku hanya bisa mengamati dari jauh. Penampilannya selalu rapi jali, dan senyumnya selalu menyejukkan yang memandang..sayang ada yg kurang beres di 0taknya. Suatu pagi, begitu selesai absensi dll sebagainya, aku melihat kakek itu duduk sendirian di bangku taman RSJ. Sempat kutanyakan pada perawatnya, namanya mbah J0y0, keluarganya yang membawa dia kemari…entah kenapa aku tergelitik untuk mendekatinya, pelan aku duduk di sampingnya, dia sama sekali tidak menggubris aku. Mungkinkah katat0nia? tiba-tiba dia berkata-kata se0lah-olah pada dirinya sendiri, ”Kita tidak bisa membahagiakan semua 0rang dalam 1 waktu! Malah kadang-kadang kita juga tidak tahu caranya membahagiakan diri sendiri!’
Setengah kaget aku menunggu dia ngomong lagi. “Lihat saja, duit yang selalu dikira dapat membawa kebahagiaan, nyatanya bisa bikin sengsara juga kan?” Katanya lagi dengan sedikit ketus. Upz! Bukan katatonia! Kucoba berinteraksi dan memancing reaksinya, “Mbah duitnya banyak yaaa??” Bukannya menjawab, dia malah seolah-olah menasehati orang didepannya, “Kamu! Cobalah berdamai dengan diri sendiri dulu, jangan menyerah meskipun susah! Mungkin setelah itu kamu baru bisa membahagiakan semua orang yang ada di dekatmu walaupun hanya dengan senyuman.” Secara tiba-tiba dia menoleh padaku yang masih terbengong seraya berkata, “Bahagia bukan di sini saja.” (menunjuk kepalanya) “Tapi di sini juga!” kali ini sembari menunjuk dadanya. Setelahnya dia meninggalkan aku yang masih terhipnotis oleh kata-katanya barusan.
Bahkan dari mulut orang yang kita anggap gila pun bisa keluar permata. Kenapa kita yang mengangap diri kita waras ini masih suka memaki dan menyakiti orang-orang dengan kata-kata yang tidak pantas? Dan pelajaran yang berharga pun aku dapatkan dari sebuah Rumah Sakit Jiwa.

Gadis kecil dan saputangan lusuhnya

Gadis itu lusuh dan selalu kotor, setiap pagi selalu kulihat di perempatan lampu merah membawa bass betot yang besarnya melebihi badan mungilnya. Menyanyikan lagu2 yang lagi happening dengan arransement ulang yang semrawutz, aku suka memandanginya tiap berhenti karena lampu merah menyala, dan yang tak pernah aku lupa adalah dia selalu membawa saputangan merah lusuhnya. 1 hari ketika dia ngamen di tempat aku menghentikan motor, aku tak dapat menahan penasaranku untuk bertanya, “ Eh namanya siapa sih dik?” “Retn0 mba’!” jawabnya ramah, duh senyumnya sbenernya manis banget, sayang dia kotor dan lusuh. “Tuh saputangan ga’ pernah absen ya?” tanyaku lagi, “Ini di kasih ibu mba’, buat jagain aku.” Belum sempat aku ber tanya lagi, lampu hijau sudah menyala, bergegas aku tancap gas.
Walaupun aku masih penasaran akan jawaban gadis itu, aku harus menunda banyak sekali pertanyaan di kepalaku, sayangnya pulang kerja aku tak bisa melewati jalan itu karena jalan itu one way, namun aku bertekad besok harus ketemu lagi menuntaskan rasa ingin tahuku.
Esoknya,ke tika aku melewati jalan itu dan berhenti di lampu merah seperti biasa, kulihat Retno sudah tidak lagi membawa bass betotnya lagi, tapi menggendong seorang anak kecil dengan gendongan yang tak kalah lusuhnya. Astaga!! Apa itu adiknya..atau? segera aku tanya ketika dia sampai di tempatku, “ Retn0, itu adiknya ya?” “Bukan mba’, ini aku nyewa dari ibu itu tuh yang duduk di trotoar, 1 jamnya 1500!” whatZ?!! saking bengongnya aku tak menyadari lampu hijau sudah menyala dan klakson kendaraan di belakangku menyalak riuh.
aku sudah agak melupakan peristiwa itu ketika sabtu pagi yang notabene aku libur kerja , karena suntuk dan bosan terbelenggu dinding (huiks…kaya orang bener aje ) aku memutuskan untuk jalan2 kemanapun motor butut setiaku membawaku, entah mengapa stang motorku seperti tergerak ke perempatan lampu merah tempat Retno biasa mangkal. Kulihat dia masih dengan riang ngamen, tak lupa bass bet0tnya ditenteng dengan wajah cerah. Aku membelokkan motorku ke kiri yang bebas jalan dan memarkirnya di gedung sebuah bank yang ada di situ.
Dengan berjalan kaki aku kembali ke tempat itu, tapi…ya Allah?!! Terdengar bunyi mendecit dan suara dentuman keras..seketika suasana riuh dan kacau balau, kecelakaan!!!
Dengan perasaan tak karuan aku berlari kearah kerumunan, korban di angkat ke bahu jalan, aku berusaha menyeruak di antara kerumunan 0rang2 dan Astagfirullah..Retno!!! Kepalanya penuh darah, masih mendekap saputangan merahnya, dia masih merintih tak jelas..
Reflek aku sentuh lehernya yang juga penuh darah. Ada denyut lemah, panik aku merogoh kantong celanaku mencari handphone dan segera menelepon ambulan. Tapi… ambulan belum sampai dan polisi sibuk sendiri di TKP, kulihat Retno tak bergerak, kusentuh tubuhnya dingin, aku gemetar, air mataku meleleh tanpa sadar..
Kuraba lehernya lagi.. denyutnya menghilang, takut lehernya patah aku tak berani gegabah memberi pertolongan pertama..dan ketika ambulan datang,Retn0 telah tiada..
Aku duduk terhenyak ketika ambulan yang membawa Retno meraungkan sirine pergi dari TKP. G0ntai aku melangkah menjauh dari hingar-bingar dengan air mata yang terus meleleh tak bisa kust0p . Ternyata saputangan itu gagal menjaga Retno .
Haruskah ada Retno-Retno yang lain lagi? Yang terkapar di jalan raya yang buas dan berbahaya? Sampai kapan itu berhenti? Kenapa kita-kita tak bisa mencegahnya? Kenapa kota besar seperti surabaya ini masih mengijinkan anak-anak jalanan berkeliaran di lampu-lampu merah seperti itu? Sampai kapan bangsa kita carut-marut seperti ini?