Dia belum tua untuk seorang kakek-kakek kecuali rambut putihnya yang memenuhi sepertiga kepalanya. Sdh lama semenjak aku di tugaskan di RSJ ini mengamatinya, sayangnya dia bukan termasuk salah satu pasien observasiku, jadi aku hanya bisa mengamati dari jauh. Penampilannya selalu rapi jali, dan senyumnya selalu menyejukkan yang memandang..sayang ada yg kurang beres di 0taknya. Suatu pagi, begitu selesai absensi dll sebagainya, aku melihat kakek itu duduk sendirian di bangku taman RSJ. Sempat kutanyakan pada perawatnya, namanya mbah J0y0, keluarganya yang membawa dia kemari…entah kenapa aku tergelitik untuk mendekatinya, pelan aku duduk di sampingnya, dia sama sekali tidak menggubris aku. Mungkinkah katat0nia? tiba-tiba dia berkata-kata se0lah-olah pada dirinya sendiri, ”Kita tidak bisa membahagiakan semua 0rang dalam 1 waktu! Malah kadang-kadang kita juga tidak tahu caranya membahagiakan diri sendiri!’
Setengah kaget aku menunggu dia ngomong lagi. “Lihat saja, duit yang selalu dikira dapat membawa kebahagiaan, nyatanya bisa bikin sengsara juga kan?” Katanya lagi dengan sedikit ketus. Upz! Bukan katatonia! Kucoba berinteraksi dan memancing reaksinya, “Mbah duitnya banyak yaaa??” Bukannya menjawab, dia malah seolah-olah menasehati orang didepannya, “Kamu! Cobalah berdamai dengan diri sendiri dulu, jangan menyerah meskipun susah! Mungkin setelah itu kamu baru bisa membahagiakan semua orang yang ada di dekatmu walaupun hanya dengan senyuman.” Secara tiba-tiba dia menoleh padaku yang masih terbengong seraya berkata, “Bahagia bukan di sini saja.” (menunjuk kepalanya) “Tapi di sini juga!” kali ini sembari menunjuk dadanya. Setelahnya dia meninggalkan aku yang masih terhipnotis oleh kata-katanya barusan.
Bahkan dari mulut orang yang kita anggap gila pun bisa keluar permata. Kenapa kita yang mengangap diri kita waras ini masih suka memaki dan menyakiti orang-orang dengan kata-kata yang tidak pantas? Dan pelajaran yang berharga pun aku dapatkan dari sebuah Rumah Sakit Jiwa.
Setengah kaget aku menunggu dia ngomong lagi. “Lihat saja, duit yang selalu dikira dapat membawa kebahagiaan, nyatanya bisa bikin sengsara juga kan?” Katanya lagi dengan sedikit ketus. Upz! Bukan katatonia! Kucoba berinteraksi dan memancing reaksinya, “Mbah duitnya banyak yaaa??” Bukannya menjawab, dia malah seolah-olah menasehati orang didepannya, “Kamu! Cobalah berdamai dengan diri sendiri dulu, jangan menyerah meskipun susah! Mungkin setelah itu kamu baru bisa membahagiakan semua orang yang ada di dekatmu walaupun hanya dengan senyuman.” Secara tiba-tiba dia menoleh padaku yang masih terbengong seraya berkata, “Bahagia bukan di sini saja.” (menunjuk kepalanya) “Tapi di sini juga!” kali ini sembari menunjuk dadanya. Setelahnya dia meninggalkan aku yang masih terhipnotis oleh kata-katanya barusan.
Bahkan dari mulut orang yang kita anggap gila pun bisa keluar permata. Kenapa kita yang mengangap diri kita waras ini masih suka memaki dan menyakiti orang-orang dengan kata-kata yang tidak pantas? Dan pelajaran yang berharga pun aku dapatkan dari sebuah Rumah Sakit Jiwa.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar