Siang tadi, seorang gadis melangkah menyusuri perkampungan kumuh yang berada di belakang komplek rumah mewahnya..
Rambut hitam sebahu gadis itu tak bergerak sama sekali, tak ada angin mampu hidup di perkampungan yang padat itu..
Betis putih pualam si gadis melangkah dibawah tatap preman setempat yang masih mengumpulkan kesadaran, sisa mabuk semalam..
"Kau tahu rumah pemulung di kampung ini?" tanya si gadis pada si preman. Seraya menuang sisa botol bir ke bibirnya, preman menggeleng.
Si gadis melangkah lagi, menyusuri lorong-lorong sempit rumah-rumah triplek. Matanya tajam mencari-cari. Ia mencari seorang pemulung..
Pada seorang ibu tua yang sibuk mencuci, si gadis bertanya lagi; "Ibu tahu rumah seorang pemulung yang tinggal di kampung ini?"
Seraya menyeka keringat didahi dengan telapak tangannya, si ibu menggeleng, sekaan itu tinggalkan busa sabun di wajahnya. Si gadis berlalu.
Si gadis bertemu petugas pencatat listrik yang tengah memeriksa meteran dari rumah ke rumah. "Bapak tahu rumah pemulung?" tanya si gadis.
Petugas Pencatat Listrik itu tentu tahu rumah pemulung di kampung itu, "Listriknya baru saya putus kemarin, ia tak mampu bayar" katanya.
Si gadis tiba di rumah pemulung itu. Seorang lelaki jelang renta duduk menyusun lembar demi lembar kertas kardus dan gelas air mineral..
"Benarkah bapak pemulung?" tanya si gadis. "Apakah bapak sering ke komplek perumahan di ujung sana?" si gadis mencecar si pemulung.
"Ada yang bisa saya bantu mbak?" tanya si pemulung. Ia tak persilakan si gadis duduk, tak ada bangku bersih dirumah itu menurutnya..
"Saya hanya ingin bertanya," kata si gadis, "apa belakangan ini bapak memungut sesuatu dari tempat sampah di depan rumah saya?"
Si pemulung tersenyum, lalu memandangi barang-barang yang memenuhi rumahnya. "Ada banyak yang saya pungut.." katanya. "Ada yang hilang?"
"Ada yang hilang di rumah" kata si gadis. "Takutnya terbuang dan bapak memungutnya" lanjut si gadis. "Apa itu?" tanya si pemulung. "CINTA".
Oh jadi begini, si pemulung kemudian mempersilahkan si gadis untuk mencari cinta yang hilang itu di tumpukan rongsokan miliknya..
Sesaat kemudian, si gadis berhenti membongkar-bongkar. Cinta tak ia temukan di rumah si pemulung. Si gadis menyeka keringat didahinya..
"Bagaimana mbak?" tanya si pemulung, "Adakah cinta kau temukan ditumpukan itu?" Si gadis menggeleng. "Sudah lama tak ada cinta disini mbak".
"Tapi kalo boleh, tunjukkan pada saya rumah tempat cinta itu hilang," pinta si pemulung, "Siapa tahu dengan begitu saya ingat..."
Si gadis kemudian melangkah bersama si pemulung, menyusuri lorong sempit kampung itu..
Dan setelah melewati jembatan sempit, sampailah si pemulung di komplek perumahan mewah yang biasa ia susuri untuk mencari barang bekas..
Si gadis berhenti di depan rumah mewahnya. Si pemulung yang mengikuti terdiam dibelakangnya.. "Ini rumah saya pak, bapak ingatkah sekarang?"
"Cinta hilang dari rumah itu pak" kata si gadis menunjuk rumahnya. "Orang tua saya akhirnya bercerai.." lanjut si gadis berkisah.
"Saya tahu rumah ini" kata si pemulung. "Rumah ini adalah alasan mengapa setiap hari saya memulung dikomplek perumahan ini" lanjutnya.
"Jadi, apakah bapak memulung cinta dari rumah ini?" tanya si gadis menatap si pemulung. Tapi si pemulung menatap rumah itu..
"Kenapa bapak menangis?" tanya si gadis begitu melihat mata si pemulung berkaca-kaca, bagai gerimis yang turun tiba-tiba.
"Dulu saya dan istri saya, karena tak punya biaya, meninggalkan cinta kami berdua di pintu rumah ini" kata si pemulung.
"Sejak itu, cinta tak ada lagi di rumah kami" kisah si pemulung, "Saya & istri memulung tiap hari di komplek ini agar bisa lihat anak kami."
"Pagar rumah yang tinggi, kadang menghalangi kami melihat buah hati kami itu tumbuh dewasa.." kisah si pemulung.
"Suatu hari, lama tak melihat anak kami. Rindu yang amat sangat menyerang istri saya, ia jatuh sakit" kisah si pemulung. "Lalu meninggal."
"Sejak itu, cinta hilang dari rumahku yang reot." si pemulung terus berkisah. "Gelas plastik kupunguti, tapi cinta kubuang sia-sia."
"Tapi kenapa cinta hilang dari rumah mewah ini?" tanya si pemulung tiba-tiba. "Kenapa ada cerai?" Si pemulung bertanya tapi tak ada jawaban.
"Kenapa cinta hilang dari rumah ini?" tanya si pemulung. "Mbak?" Tak ada jawaban. Si pemulung menoleh kesana kemari. Gadis itu hilang.
Si pemulung panik, ia mencari gadis yang tadi bersama dan kemudian hilang itu..
Si pemulung berhenti mencari dan terdiam memandang rumah besar dengan pagar tinggi itu.. Kenapa cinta hilang dari rumah itu?
Tiba-tiba, kaki tua si pemulung berlari menuju rumah besar dihadapannya. Ia mendekati pagar, menekan bel, tapi tak ada jawaban. Sepi....
Si pemulung lupa pada umurnya, ada kerinduan pada bayi mungilnya yang membuncah tiba-tiba.. Ia menggedor gerbang besi. Tetap sunyi.
Saat si pemulung berusaha berdiri, sebuah ember plastik melayang kearahnya. PLAK! Si pemulung terjatuh lagi.. "Pemulung dilarang masuk!"
Ketika si pemulung berhasil berdiri, seorang ibu paruh baya berdiri seraya mengacungkan sapu: "Pemulung dilarang masuk!" serunya.
"Pemulung dilarang masuk!" teriak ibu penjaga rumah mewah itu. "Tunggu-tunggu sebentar." ujar si pemulung, "Saya bukan mau ngambil barang."
"Mau apa kalo bukan mencuri?" selidik si ibu. "Saya ingin melihat, bayi yang 17 tahun lalu saya tinggal di rumah ini" jawab si pemulung.
Mendengar kata si pemulung. Si ibu terduduk seketika, kakinya lemas. "Kau mencari tuan putri? Anak angkat tuan dan nyonya?" tanyanya.
"Iya," jawab si pemulung. "Aku ingin melihat anak itu. Aku rindu padanya.." jawab si pemulung. Si ibu menatap si pemulung dengan wajah duka.
"Anak itu meninggal tepat setahun lalu.." kata si ibu. "Sepulang sekolah ia kecelakaan." lanjut si ibu.
Si pemulung terpaku ditempatnya berdiri..
Sayup-sayup terdengar sebuah lagu mengalun... "Waktu hujan turun, disudut gelap mataku. Begitu derasnya.." - SEKIAN.