Rabu, 26 Oktober 2016

The Story Of Mendung

Lemme tell you this story... 

Sering bukan, kita melihat matahari yang tertutup awan seharian? Yes, kita menyebutnya mendung. Sering juga mendung kita analogikan dengan banyak hal. Seperti perasaan seseorang atau keadaan tertentu dimana hari memburuk yang dialami sebagian besar orang. Let's see the new perspective. Kita uraikan secara sederhana saja. Let's math this one, mendung yang menyejukkan terutama dipagi hari lebih dikhawatirkan sebagian besar orang. Banyak sekali kekhawatiran. Bagaimana cucian hari ini, bagaimana berangkat kerja/sekolah, bagaimana dagangan hari ini. Wajar, semua orang punya kepentingan. Yang paling ditakutkan adalah saat turunnya hujan disaat yang tidak tepat. Tapi kak, kapan tepatnya waktu hujan yang pas? Ini pun kita tidak bisa menyama-ratakan timing "tepat" untuk semua orang. 

Bagiku mendung lebih sering memanjakan. Matahari atau bintang dan bulan untuk sementara ter-cover awan gelap. Ini terkadang bisa sangat membuat nyaman kita yang tepat berada di bawahnya. Memanjakan dengan udara dinginnya, atau udara hangatnya kadangkala menyiksa. 

Mari berpura-pura menjadi matahari. Seolah-olah kita diberi waktu untuk beristirahat. Tanpa membuat bumi benar-benar gelap. Karena cahayanya masih mampu menerangi semua sudut jalanan. Selama ini akulah matahari tanpa tertutup awan gelap, dan ketika malam datang, seluruh bumi diliputi kegelapan. Kalian masih bisa menyalakan lampu tanpa aku. Tapi aku lebih memilih tertutup sedikit awan gelap daripada tenggelam dan digantikan lampu-lampu buatan. Mungkin mengatakan aku lelah terhadap apa yang sedang aku perjuangkan adalah kesalahan besar. Tapi sekalipun matahari tetap membutuhkan awan gelap. Dan semua orang merasa berhak untuk menghakimiku.

Pagi ini mendung menggayut... terimakasih karena sudah tidak pernah mengerti. Selamat pagi😘

Sabtu, 22 Oktober 2016

Tentang keyakinan

Lemme learn something... 

Pohon manggaku berbuah banyak sekali tahun ini. Masih amazed aja, mengingat sebelum2nya hanya bisa ileran melihat tetangga-tetanggaku semua panen mangga super banyak. Bergelantungan sampai tepi jalan seolah-olah mengejek, "Mana pohon manggamu? Mandul ya?" 

Tentu saja aku senang sekali, meskipun tidak sebagus dan sebanyak panenan sebelah-sebelah (namanya juga milik tetangga kan? Menurut quote-quote pasti lebih bagus dari milik kita haha..) 

Beberapa tahun lalu sering ada yang menyarankan, "Dilukai aja batang pohonnya, dibacok-bacok gitu pakai pisau atau parang." Akunya mana tega? Bukankan tanaman itu mahluk hidup? Makan juga, bernafas juga. Siapa tahu dia kesakitan? Sumpah tidak tega, lucu ya? Tidak mengapa, aku juga merasa lucu, kenapa berpikiran kalau saja aku dilahirkan bukan sebagai demit tapi sebagai tanaman, terus diperlakukan seenaknya sama demit-demit yang lain. Kan syediiih kaaaak... 

Jadi aku pasrah. Masalahnya aku pernah membeli tanaman jambu air bersamaan dengan tetangga sebelah, umur dan tinggi sama, kata mas penjualnya. Ketika ditanam, punya sebelah cepat sekali berbunga dan berbuah sementara milikku? Hahahaha begituuu deeeh... (Garuk-garuk ketombe) 
Aku pikir, meskipun manggaku mandul, tidak apa-apa nak, mama tetap menerimamu apa adanya. Setidaknya rumah mama jadi adem.. 

Tiba-tiba tahun ini berbuah banyak sekali. Girang bukan main. Mungkin ini juga diselipkan sama Allah buah-buah kesabaran bertahun-tahun. (kadang sabar sama cuek itu beda tipis haha.. Iyeeeee) Dan mungkin Awal semua bulan dalam tahun ini yang selalu buruk (ini menurutku, tolong jangan judgemental kesinisanku😂) Tersiram oleh panen mangga-mangga nan manis dipertengahan bulan dan tahun ini. Setidaknya ini pertanda baik. Eiits... Jangan salah! Pertanda baik untukku tentu beda persepsi sama pertanda baiknya mayoritas orang. Aku sedang membangun mimpi. Tekadku bulat. Tidak ada yang akan menggugurkan tekadku yang terlanjur bulat dan kata "Whateva" ku yang kuucapkan dalam hati. Universe pelan-pelan akan mendukungku, aku tahu itu. Dan panen mangga tahun ini, aku anggap salah satu dukungan mental. Hahaha absurd? Bukan aku, kalau normal-normal saja.