Senin, 30 Maret 2015

EPISODE 5 : I'll give you everything

Saat itu musim hujan... Deras turun kebumi. Mengguyur belahan bumi tanpa ampun. Semua bergerak seolah slow motion. Rinai hujan yang jatuh perlahan.. Ryan menatap nanar kedepan.... Bzzzzz oke stop. Ini alay. Ganti settingan.

Virly tidak menghiraukan kekacauan di belakangnya. Yang dipikirnya hanya satu, jangan sampai dia pulang sebelum semuanya benar - benar tuntas. Ryan yang berlari hendak mencegah Virly justru hampir terjengkang, ketika sepasang tangan mencengkeramnya dengan kuat dan mendorongnya ke belakang. Rendy susah payah berdiri dan mendorong Ryan. Berlari sekuat tenaga menyusul Virly. Sebuah pick up yang melaju kencang tiba - tiba saja muncul begitu saja. Virly menjerit dan berbalik arah. Semua begitu cepat. Seperti sekedipan mata. Ryan terpelanting menghantam aspal. Hal yang diingatnya hanya satu. Dia tidak bisa membiarkan laki - laki yang dicintai Virly celaka. Itu saja. "Demi kamu, Vi.... " Rendy masih terpaku. Dia sendiri terperosok dibahu jalan. Ryan menariknya begitu kuat dan mendorongnya ke belakang. Shocked. What the...? 

Disudut sebuah Rumah sakit, mama Virly seperti orang gila. Panik, sedih, takut. "Apa yang harus aku bilang ke Gena Tuhaaan? Anaknya dalam keadaan seperti ini. Aku harus bilang apa?" Virly diam tak bergerak. Terpaku menatap lantai. Seperti orang yang diserang katatonia. Bahkan tangisan saja dia tidak mampu melakukannya. Freeze ditempat ya duduk. Menggumamkan kata - kata yang bahkan mungkin dia sendiri tidak mengerti artinya.

Rendy adalah orang paling merasa bersalah. "Harusnya aku yang celaka, astagaaa... Kenapa semua ini jadi seperti ini? Semua salahku. Harusnya aku sadar diri. Siapakah aku ini yang hendak merusak kebahagiaan gadis yang aku cintai? Ryan jelas mampu membahagiakan Virly daripada aku. Sayang Ryan pada Virly sudah tidak diragukan lagi. Aku bahkan mungkin tidak sanggup membelikan baju yang layak untuknya." Rendy menghentak - hentakkan kakinya ke lantai. Gelisah. Hanya dia dan Tuhan yang tahu, apa yang dirasakannya saat ini. 

Dokter yang menangani Ryan keluar dari ruang IGD dan memandang ketiga manusia yang sedang dilanda perasaan tidak karuan. "Maaf, siapa yang keluarganya pasien? Saya harus bicara dan meminta ijin untuk melakukan amputasi kaki kirinya." ( please yang dokter, prosedurnya kek apa wooi? Hahahaha... Oke skip)

5 bulan sejak peristiwa yang menghantui seluruh hidup ketiga manusia yang terkait satu sama lain dengan cara yang bahkan tidak terpikirkan oleh siapapun. Ryan duduk diatas kursi rodanya. Menatap Virly datar. Diam dan menghela nafas berkali - kali. "Aku membebaskan kamu Vi, aku sudah tidak mencintaimu lagi. Bukan karena cacatku. Sekali lagi jangan berpikiran seperti itu. Murni karena aku sadar kamu tidak akan pernah mencintaiku sampai kapanpun. Cintamu bukan buat aku. Rendy adalah orang yang kamu cintai Vi. Aku hanya orang yang memaksakan diri masuk dalam kehidupan kalian. Maafkan aku. Tapi aku sudah melupakan perasaanku padamu. Tolong jangan temui aku lagi." Berkata begitu Ryan memutar balik arah kursi rodanya dan berusaha secepatnya berlalu. Dia tidak mau airmatanya jatuh didepan Virly. Tidak perlu. Dia yang laki - laki. Sakit di dadanya bisa ditahan. Tapi membiarkan Virly terpaksa mencintainya karena kasihan adalah sakit yang tidak bisa ditahan. Harga dirinya tidak mampu membendung hal seperti itu. Meskipun setahun belakangan semua seolah telah diberikan pada gadis itu. Tidak kali ini. "Maafkan aku Vi, semuanya demi kamu... Demi kita." 

Airmata tidak terbendung menetes perlahan dipipi Virly. Tanpa isakan. Mematung berdiri memandang Ryan yang berlalu dari hadapannya. Virly menjerit emosi, "Ryan... Kamu bodoh Ryan. Kenapa setelah semua yang kamu lakukan untukku. Bahkan hidupmu hancur seperti ini karena aku. Masih saja kamu bodoh berlagak seperti pahlawan kesiangan, melindungi aku sekali lagi? Aku bodoh Ryan, TAPI KAMU LEBIH BODOH!! Aku mencintaimu. Bukan karena kasihan. Ternyata aku mencintaimu. Aku yang bodoh baru menyadari ini semua. Dan aku terlambat... Ternyata aku hanya mencintai memory tentang Rendy. Aku mencintai bayangan masa lalu bersamanya. Bukan Rendy. Hanya kenangan indah bersamanya. Kamu Ryan, yang selalu ada buat aku. Kamu yang selalu meluangkan waktu mendengarkan aku.  Kamu yang selalu menghiburku, bahkan kamu rela berbohong sama mama demi melindungi aku. Aku nggak tau lagi harus bagaimana Ryan. Aku yang salah.. Aku yang terlambat menyadarinya. Kini kamupun bahkan tidak mau menoleh padaku.  Tolong jangan hukum aku seperti ini Ryan. Aku bahkan lelah menghukum diriku sendiri. Aku janji sekarang biarlah aku membayar semua ini. Waktu yang terlewatkan sia - sia. Biarkan aku selalu ada buat kamu Ryan. Biarkan aku yang menjagamu. Tolong jangan pergi dariku..." Tangis Virly mulai pecah. Dia tidak lagi mampu berkata - kata. Hatinya bagaikan dihimpit dengan dua tembok berlawanan arah. Sakit ini mungkin yang telah dia berikan kepada Ryan selama ini. Setahun yang sia - sia. Waktu adalah hal paling berharga yang bisa diberikan seseorang kepada orang yang dicintainya. Karena waktu tidak bisa diambil kembali. Karena waktu tidak mungkin dikembalikan lagi. (Yassalaaam aku kok malah nangis sendiri nulis bagian ini. 😭😭😭) 

Ryan menghentikan kayuhan tangannya di kursi Rodanya. Hatinya sakit sekali. Benarkah apa yang baru saja didengar? Hampir saja dia membalikkan arah dan menyongsong Virly. Tapi tidak. Dia harus kuat. Demi Virly. Masa depannya lebih baik apabila tanpa dia. Dia adalah manusia tidak bermasa depan. Dan dia mengayuhkan kursi rodanya menuju mobilnya. Sopirnya membantunya masuk kedalam mobil. Dan segera pajero sportnya melaju membelah jalanan.... 

Apa yang akan dilakukan Virly untuk meyakinkan Ryan? Apakah Ryan mau kembali menerima Virly? Bagaimana dengan Rendy yang hampir depresi? 



Btw.. Hai kalian penggemar Mang Jaya, dia udah aku buang ke laut. Ngrusak imajinasi. Rusuh amat tuh orang HAHAHAHAHAHAHA... YA MAAAP. 😂😂😂

EPISODE 4 : Damn you! Aku benci situasi ini.

Kontrakan Rendy berada diujung sebuah gang sempit. Virly tahu kenapa mama mati - matian menentang hubungannya dengan Rendy. Klise. Keluarga Rendy bukan keluarga idaman para orang tua yang lebih mementingkan status sosial dan kemapanan. Virly tidak habis pikir, siapa yang akan menjalani semua ini nanti? Dia atau kedua orang tuanya? Siapa yang akan menanggung derita batin hidup bersama orang yang tidak ia cintai? Untuk apa semua ini? Cinta bisa tumbuh kemudian? Bullshit!! Virly tidak percaya omong kosong seperti itu. Dia cinta Rendy titik. Sebaik apapun Ryan padanya. Dunianya makin jungkir - balik. Dan dia nekad mengarang cerita soal kehamilannya kepada Ryan. Supaya Ryan menyerah. Tapi sepertinya tidak semudah itu. Dan Virly makin frustasi. Dia hampir bisa meyakinkan Ryan. Tiba - tiba Rendy muncul begitu saja. Dari mana dia tahu Virly ada disitu?

Virly menatap dua lelaki dihadapannya. Hatinya seperti diremas tangan raksasa. Tuhan, akan seperti apa jadinya ini? Drama yang ia ciptakan sendiri, dan berbalik seperti bumerang. Ryan tetap pada pendiriannya untuk membawanya pulang. Ini tanggung jawab. Virly hampir saja merasa ditipu oleh perasaannya sendiri. Bahwa ia terkesan akan sikap Ryan? Mulai suka? NO!! Dia menarik nafas dalam - dalam. "Ry, maafkan aku. Aku tidak bermaksud membuat situasi jadi sesulit ini. Kamu orang baik Ry, hanya saja... Aku terlanjur mencintai Rendy. Perasaan tidak bisa ditipu kan Ry?" "Kenapa Vir? Kenapa baru sekarang? Kenapa kamu nggak bilang dari awal? Aku pasti membantumu dengan menolak pertunangan kita. Tapi sekarang aku terlanjur mencintaimu juga Vir, aku salah? Kamu bilang perasaan tidak bisa ditipu kan?" 

Rendy mengepalkan tinjunya dalam diam. Dia memandang laki - laki didepannya dengan amarah yang meluap. Namun dia menahan diri. Ini tidak akan membawa hasil yang baik dengan mengumbar emosi. Bahkan mungkin bisa saja Virly jadi berbalik arah membencinya. Situasi saat ini benar - tidak menguntungkan dia dari semua sisi. Tapi dia pun tidak mampu memulai kata. Laki - laki macam apa yang tidak mampu berbuat apa - apa disaat gadis yang dicintainya berada diposisi sulit dan terancam diambil orang? Tanpa sadar dia menghela nafas panjang. Susah payah dia bersuara. Mengatur nafas agar tidak meledak ke permukaan. "Virly, sayang... Ya sudahlah. Mari kita ambil jalan terbaik. Kamu pulanglah bersama Ryan hari ini. Temui mama kamu dahulu, sayang. Aku akan menyusul 3 hari lagi. Aku harus mengurus cuti bukan? Kita temui orangtua kamu bersama - sama. Kalaupun ini tidak berhasil, kita sudah berusaha bukan? Aku tetap akan memperjuangkan kamu. Asal kamu tetap menjadi Virlyku. Aku tahu ini basi. Tapi kamu tahu aku tulus kan?" Belum selesai Rendy berkata - kata, tiba - tiba saja pintu depan rumah mungil itu di gedor dengan keras. Seolah - olah orang dibalik pintu itu tidak sabar mau menumpang ke WC. (Aku mules beneran. Oke skip) 

Mereka bertiga bertatapan bingung. Terkejut dan hampir terserang panik.  Ada apalagi ini? Rendy berlari kecil menuju arah pintu. Tergesa dia membuka pintu rumah kontrakannya yang seperti hampir tidak kuat menahan gedoran keras dari luar. Dan... Braaak!! Dia terjengkang kebelakang dengan keras. Hidungnya seperti berdarah. Belum selesai keterkejutannya, tendangan datang bertubi - tubi bersarang keras tanpa ampun di perutnya. Virly menjerit keras. Bahkan Ryan berusaha melerai mereka. Mang Jaya! Sopir mama berbadan besar itu seperti kesetanan menghajar Rendy yang sepertinya sudah hampir tidak mampu bergerak. "Mamaaaaaaaaaa.... Please stop it!!! Mamaaaaaaaaa....." Virly hampir saja kehilangan kesadaran dan bahkan itu tidak membuat mama Virly bergeming. Lalu tiba - tiba "Mang Jaya cukup!" Wanita setengah baya itu memandang Rendy yang terkapar. "Virly ayo pulang. Dan kamu Ryan, tante kecewa sama kamu. Tante berharap kamu membawa Virly pulang, kalian justru berada disini membuang waktu." 

Virly yang kebingungan dan panik. Takut dibawa pulang paksa, tidak lagi mampu menahan diri. Nekad dia berlalu menyeruak ke arah pintu. Ryan tidak siap, bahkan mang Jaya masih mengatur nafas. Virly secepat kilat berlari ke arah jalan, menuju tukang ojeg yang mangkal diujung jalan. Mama Virly yang sigap segera berteriak menyuruh mang Jaya mengejar. Bahkan Ryan pun ikut gegabah mengejar Virly. Tapi....

Bersambung ye xixi...

EPISODE 3 : Rendy



Ini hanyalah masalah waktu saja sebenarnya. Rendy telah lama membenci tunangan Virly. Gadis yang dicintainya sejak awal dia melihatnya. Waktu itu dia yang notabene ketua OSIS,(eh, sekarang namanya masih OSIS gak sik? Lol. ) bertugas mengkoordinasi teman - teman anggota OSIS lainnya untuk masa orientasi siswa baru. Gadis itu lucu sekali. Matanya berbinar ceria. Seakan tidak pernah takut pada apapun. Bahkan ketika kakak - kakak seniornya membentak - bentak tanpa perasaan. Matanya tetap mengerjap indah. Membuat siapa saja yang melihatnya ingin memeluknya. Rendy juga merasa seperti itu. Berangkat ke sekolah menjadi seperti hadiah yang dimenangkan dengan perjuangan. Bahkan sampai lupa harus tetap berwibawa sebagai ketua OSIS. Merasa bego sendiri, sekaligus bahagia sendiri. Semacam orang yang sedang dimabuk sesuatu. Virly gadis pertama yang sanggup membuatnya seperti itu. Dan Rendy tidak sanggup menghentikan tingkah - tingkah konyol didepan Virly. Dan Virly yang awalnya senang mendapat seorang fans berpenampilan keren dan terkenal seantero gadis - gadis disekolahnya lama - lama ketagihan terhadap semua perlakuan konyol Rendy. 

Rendy tergila - gila kepada Virly. Sudah bukan rahasia lagi. Bahkan ketika ia lulus terlebih dahulu dan harus berpisah kota karena Jogja jadi tujuannya kuliah. Gadis lain manapun belum sanggup menggantikan Virly. Saat Virly menceritakan pertunangannya dengan Ryan, ia tidak sanggup menjelaskan perasaannya sendiri. Perasaan marah, kebingungan, panik, dan segala pikiran buruk menghajarnya dari segala arah. Virly, what should I do? 

Rendy merengkuh kerah baju Ryan dan menghempaskannya lagi, sampai laki - laki itu terjerembab lagi ke lantai dingin. Sudut mulutnya mengalir darah segar. Tapi Ryan berdiri. Tidak melawan. Diam memandangnya. Lalu, "Aku tau kamu marah. Akupun marah. Aku tidak tau keadaannya begini. Kalau dari awal aku tau, aku lebih memilih pergi. Tapi sekarang, aku terlanjur mencintai Virly Ren. Aku tidak bisa pergi begitu saja. Aku masih punya tanggung jawab secara moral membawa Virly pulang. Tolong dinginkan kepala sejenak. Kita bicara baik - baik. Sebagai lelaki. Bukan sebagai pesaing." 

Rendy terdiam sejenak. Manager coffee shop dan beberapa sekuriti segera berdatangan (dari tadi kemana aja woii hahaha.. Eh maap OOT) "Ayo bicara di kontrakanku saja. Dan tolong jangan ambil kesempatan berdekatan dengan Virly! Itu saja syaratku." 

Bersambung... 
Yg nulis tepar.. Besok lagi yak hehehe... 

Jumat, 27 Maret 2015

EPISODE 2 : Titik Balik

EPISODE 2 : 
Titik Balik

Dan disinilah Ryan. Disebuah coffe shop kecil di Jogja. Pagi - pagi dia sudah mendarat di kota pelajar ini hanya untuk menepati janjinya kepada Virly. Sekaligus membunuh rasa penasaran yang seakan sudah berada diujung lidah. Sabar. Hanya itu manteranya saat ini. Mengusir segala beban tanya yang meneror nya seharian kemaren. Ingatannya kembali melayang saat Virly meneleponnya dengan gugup. "Ry, aku lagi di Jogja. Please jangan tanya apa - apa dulu. Kita ketemu di coffe shop aja. Alamatnya aku bisa SMS sekarang." Virly mendiktekan permintaannya tanpa memberi kesempatan Ryan bertanya lebih lanjut. Lalu tiba - tiba saja dering telpon genggamnya mengejutkannya sekali lagi. "Ryan, kamu dimana? Tante harus bicara sama kamu." Mama Virly! "Saya lagi di Jogja tante, mohon maaf, tapi saya akan secepatnya kembali ke Jakarta dan membawa Virly pulang sekaligus." Terdengar hembusan nafas dalam - dalam di ujung seberang sana. Lalu isakan kecil menjadi semakin tak tertahankan. Ryan panik. "Tante... Maaf..." " Sudahlah Ryan, tolong bawa Virly pulang. Tante percaya padamu." Lalu hening. 

"Ry...." Kembali Ryan terlonjak. Akhir - akhir ini syarafnya seperti terganggu. Atau pikirannya yang tidak pernah ada di tempat. Entahlah. Virly duduk didepannya. Segar, matanya berbinar cerah. Iya, itu Virlynya... Dia kembali! "Ryan, aku mau ngomong. Tapi tolong jangan menyela atau mendebat dulu sampai aku selesai ya.. Janji?" Ryan hanya mampu mengangguk. Hatinya di penuhi gejolak yang bahkan dia sendiri hampir tidak mampu mengendalikannya. 

"Kamu kenal Rendy kan Ry? Iya, mantanku waktu SMA. Dia bukan mantanku. Dia pacarku. Aku mencintainya, bahkan hingga detik ini. Sssstttt...!!!  Please tolong jangan potong ceritaku dan jangan memperdebatkan dahulu. Kamu udah janji kan?" Ryan kembali menelan amarahnya. Gemuruh didadanya mungkin sebentar lagi akan meledakkan seluruh coffe shop ini. Tapi dalam hati dia kembali mengucap mantera. Sabar. 

Virly meluruskan duduknya dan berdeham perlahan. Mungkin dia juga gugup dan sama gelisahnya. Lalu ia meneruskan lagi setelah menghembuskan nafas kuat - kuat berkali - kali. "Iya, aku mencintai Rendy. Kami saling mencintai. Perjodohan ini, aku sudah mengatakan keberatanku berkali - kali pada mama. Tapi mama marah besar Ry. Beliau bahkan mengancamku mengirim aku kuliah ke malaysia. Tempat kakak mama tinggal. Kamu tau kan itu Ry? Mana mungkin aku sanggup? Tapi Ry, kalau ini agak sedikit melegakan, aku mulai sayang sama kamu. Kamu yang sabar dan paling ngertiin aku. Tapi itu aja Ry. Aku nggak sanggup lagi lebih dari itu. Saat ini Rendy kerja di Jogja. Aku rasa kalau aku nggak nekad seperti ini, aku nggak akan mencapai mimpiku. Ryan ini mimpi kami. Salahkah kami?" Airmata mulai meleleh di pipi gadis itu. Semakin berderai hingga menciptakan sedu - sedan kecil yang sungguh Demi Tuhan Ryan tidak sanggup lagi untuk tidak memeluknya. 

"Bantu aku Ry, aku nggak sanggup bicara sama mama. Tolong putuskan pertunangan kita. Hanya sama kamu aku berani berharap. Aku jahat ya sama kamu? Tapi aku tidak melihat jalan lain. Aku bahkan "terlambat" 2 minggu." Virly semakin terisak - isak dalam dekapan Ryan. Ryan membatu. Hatinya sakit. Bahkan airmata hampir berontak keluar. Tapi dia laki - laki. Dia tidak akan menangis disaat seperti ini. Rasanya bahkan oksigen tidak sampai masuk ke dalam coffe shop ini. Susah payah dia mengatur nafas dan perasaannya. 

Tiba - tiba saja pukulan luar biasa keras menghantam sisi kanan rahangnya. Membuatnya berkunang - kunang dan roboh terjengkang karena tidak siap menerima serangan. Matanya kabur. Terdengar Virly menjerit meneriakkan namanya dan nama siapa tadi? RENDY!!! 

Bersambung....

Kamis, 26 Maret 2015

EPISODE 1 : What's wrong with you Vi?



Pukul 23.00 wib tepat. Ryan yakin karena dia serasa muak melihat arlojinya dari sekitar 30 menit yang lalu. Arloji kebanggaanya. Hasil dia menabung selama 2 tahun. Tapi saat ini dia benar - benar ingin muntah rasanya melihat arloji yang jelas - jelas nggak salah apa - apa. Apalagi maunya Virly kali ini? Semakin Ryan mencoba memahaminya, semakin jauh rasanya bayang - bayang gadis itu dari pandangannya. Mereka sudah pacaran selama satu tahun belakangan ini. Dan ulah Virly kian menjadi saja rasanya. Awalnya perjodohan ini terasa menyenangkan. Virly gadis lucu dan terlihat seperti rapuh itu benar - benar membuat dia jatuh hati. Celotehnya, manjanya, binar matanya. Semua yang ada dalam Virly seolah seperti jawaban atas semua pencariannya. "Mama benar." Pikirnya saat itu. 

Lamunan Ryan seperti terhenti ketika melihat sesosok yang ia kenal betul perlahan mendekat. Berjalan gontai, dengan pakaian yang terlihat sudah dua hari dipakai. Kusut masai... Lelah. Virly! 

"Ryan, bantu aku please!" Ah kalimat itu lagi! Ryan menghela nafas panjang. "Kali ini apa Vir? Apalagi yang kamu lakukan? Kemana saja kamu dua hari ini? Please Vir, aku lelah." Ryan mengacak rambut dikepalanya, putus asa. Virly menghempaskan badannya, duduk di trotoar. Malam itu sepi sekali, hanya satu - dua kendaraan yg lewat. "Tolong bilang sama mama, aku lagi sama kamu dua hari ini. Please sekali lagi ini aja." 

Ryan semakin putus asa. "Jelaskan sama aku Vir, tolong jangan bikin aku seperti ini..." Belum selesai Ryan meneruskan kalimatnya, tiba - tiba saja Virly bangkit secepat kilat menghentikan taksi yang lewat, dan secepat itu pula dia melompat masuk. "Aku pasti jelaskan Ryan. Tapi nanti, tolong... Bilang sama mama aku lagi sama kamu. Besok aku telfon kamu." Dan taksi pun membelah malam. Whaaaat? Apa - apaan ini? Itu tadi apa? Ryan semakin frustasi. Belom hilang keterkejutannya, tiba - tiba Telfon genggamnya berdering kencang. Terlonjak karena kaget, secepat kilat dia melihat layar HP nya. Mamanya Virly! "Hallo Ryan? Ini tante, tante tidak tahu harus bilang apa sama kamu. Apa yang kamu lakukan sama Virly?? Kamu apakan Virly?? Tante kecewa sama kamu Ryan!" Deg! Apalagi ini Ya Tuhan..... 
Bersambung..