Jumat, 27 Maret 2015

EPISODE 2 : Titik Balik

EPISODE 2 : 
Titik Balik

Dan disinilah Ryan. Disebuah coffe shop kecil di Jogja. Pagi - pagi dia sudah mendarat di kota pelajar ini hanya untuk menepati janjinya kepada Virly. Sekaligus membunuh rasa penasaran yang seakan sudah berada diujung lidah. Sabar. Hanya itu manteranya saat ini. Mengusir segala beban tanya yang meneror nya seharian kemaren. Ingatannya kembali melayang saat Virly meneleponnya dengan gugup. "Ry, aku lagi di Jogja. Please jangan tanya apa - apa dulu. Kita ketemu di coffe shop aja. Alamatnya aku bisa SMS sekarang." Virly mendiktekan permintaannya tanpa memberi kesempatan Ryan bertanya lebih lanjut. Lalu tiba - tiba saja dering telpon genggamnya mengejutkannya sekali lagi. "Ryan, kamu dimana? Tante harus bicara sama kamu." Mama Virly! "Saya lagi di Jogja tante, mohon maaf, tapi saya akan secepatnya kembali ke Jakarta dan membawa Virly pulang sekaligus." Terdengar hembusan nafas dalam - dalam di ujung seberang sana. Lalu isakan kecil menjadi semakin tak tertahankan. Ryan panik. "Tante... Maaf..." " Sudahlah Ryan, tolong bawa Virly pulang. Tante percaya padamu." Lalu hening. 

"Ry...." Kembali Ryan terlonjak. Akhir - akhir ini syarafnya seperti terganggu. Atau pikirannya yang tidak pernah ada di tempat. Entahlah. Virly duduk didepannya. Segar, matanya berbinar cerah. Iya, itu Virlynya... Dia kembali! "Ryan, aku mau ngomong. Tapi tolong jangan menyela atau mendebat dulu sampai aku selesai ya.. Janji?" Ryan hanya mampu mengangguk. Hatinya di penuhi gejolak yang bahkan dia sendiri hampir tidak mampu mengendalikannya. 

"Kamu kenal Rendy kan Ry? Iya, mantanku waktu SMA. Dia bukan mantanku. Dia pacarku. Aku mencintainya, bahkan hingga detik ini. Sssstttt...!!!  Please tolong jangan potong ceritaku dan jangan memperdebatkan dahulu. Kamu udah janji kan?" Ryan kembali menelan amarahnya. Gemuruh didadanya mungkin sebentar lagi akan meledakkan seluruh coffe shop ini. Tapi dalam hati dia kembali mengucap mantera. Sabar. 

Virly meluruskan duduknya dan berdeham perlahan. Mungkin dia juga gugup dan sama gelisahnya. Lalu ia meneruskan lagi setelah menghembuskan nafas kuat - kuat berkali - kali. "Iya, aku mencintai Rendy. Kami saling mencintai. Perjodohan ini, aku sudah mengatakan keberatanku berkali - kali pada mama. Tapi mama marah besar Ry. Beliau bahkan mengancamku mengirim aku kuliah ke malaysia. Tempat kakak mama tinggal. Kamu tau kan itu Ry? Mana mungkin aku sanggup? Tapi Ry, kalau ini agak sedikit melegakan, aku mulai sayang sama kamu. Kamu yang sabar dan paling ngertiin aku. Tapi itu aja Ry. Aku nggak sanggup lagi lebih dari itu. Saat ini Rendy kerja di Jogja. Aku rasa kalau aku nggak nekad seperti ini, aku nggak akan mencapai mimpiku. Ryan ini mimpi kami. Salahkah kami?" Airmata mulai meleleh di pipi gadis itu. Semakin berderai hingga menciptakan sedu - sedan kecil yang sungguh Demi Tuhan Ryan tidak sanggup lagi untuk tidak memeluknya. 

"Bantu aku Ry, aku nggak sanggup bicara sama mama. Tolong putuskan pertunangan kita. Hanya sama kamu aku berani berharap. Aku jahat ya sama kamu? Tapi aku tidak melihat jalan lain. Aku bahkan "terlambat" 2 minggu." Virly semakin terisak - isak dalam dekapan Ryan. Ryan membatu. Hatinya sakit. Bahkan airmata hampir berontak keluar. Tapi dia laki - laki. Dia tidak akan menangis disaat seperti ini. Rasanya bahkan oksigen tidak sampai masuk ke dalam coffe shop ini. Susah payah dia mengatur nafas dan perasaannya. 

Tiba - tiba saja pukulan luar biasa keras menghantam sisi kanan rahangnya. Membuatnya berkunang - kunang dan roboh terjengkang karena tidak siap menerima serangan. Matanya kabur. Terdengar Virly menjerit meneriakkan namanya dan nama siapa tadi? RENDY!!! 

Bersambung....

Tidak ada komentar:

Posting Komentar