Ini hanyalah masalah waktu saja sebenarnya. Rendy telah lama membenci tunangan Virly. Gadis yang dicintainya sejak awal dia melihatnya. Waktu itu dia yang notabene ketua OSIS,(eh, sekarang namanya masih OSIS gak sik? Lol. ) bertugas mengkoordinasi teman - teman anggota OSIS lainnya untuk masa orientasi siswa baru. Gadis itu lucu sekali. Matanya berbinar ceria. Seakan tidak pernah takut pada apapun. Bahkan ketika kakak - kakak seniornya membentak - bentak tanpa perasaan. Matanya tetap mengerjap indah. Membuat siapa saja yang melihatnya ingin memeluknya. Rendy juga merasa seperti itu. Berangkat ke sekolah menjadi seperti hadiah yang dimenangkan dengan perjuangan. Bahkan sampai lupa harus tetap berwibawa sebagai ketua OSIS. Merasa bego sendiri, sekaligus bahagia sendiri. Semacam orang yang sedang dimabuk sesuatu. Virly gadis pertama yang sanggup membuatnya seperti itu. Dan Rendy tidak sanggup menghentikan tingkah - tingkah konyol didepan Virly. Dan Virly yang awalnya senang mendapat seorang fans berpenampilan keren dan terkenal seantero gadis - gadis disekolahnya lama - lama ketagihan terhadap semua perlakuan konyol Rendy.
Rendy tergila - gila kepada Virly. Sudah bukan rahasia lagi. Bahkan ketika ia lulus terlebih dahulu dan harus berpisah kota karena Jogja jadi tujuannya kuliah. Gadis lain manapun belum sanggup menggantikan Virly. Saat Virly menceritakan pertunangannya dengan Ryan, ia tidak sanggup menjelaskan perasaannya sendiri. Perasaan marah, kebingungan, panik, dan segala pikiran buruk menghajarnya dari segala arah. Virly, what should I do?
Rendy merengkuh kerah baju Ryan dan menghempaskannya lagi, sampai laki - laki itu terjerembab lagi ke lantai dingin. Sudut mulutnya mengalir darah segar. Tapi Ryan berdiri. Tidak melawan. Diam memandangnya. Lalu, "Aku tau kamu marah. Akupun marah. Aku tidak tau keadaannya begini. Kalau dari awal aku tau, aku lebih memilih pergi. Tapi sekarang, aku terlanjur mencintai Virly Ren. Aku tidak bisa pergi begitu saja. Aku masih punya tanggung jawab secara moral membawa Virly pulang. Tolong dinginkan kepala sejenak. Kita bicara baik - baik. Sebagai lelaki. Bukan sebagai pesaing."
Rendy terdiam sejenak. Manager coffee shop dan beberapa sekuriti segera berdatangan (dari tadi kemana aja woii hahaha.. Eh maap OOT) "Ayo bicara di kontrakanku saja. Dan tolong jangan ambil kesempatan berdekatan dengan Virly! Itu saja syaratku."
Bersambung...
Yg nulis tepar.. Besok lagi yak hehehe...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar