Kontrakan Rendy berada diujung sebuah gang sempit. Virly tahu kenapa mama mati - matian menentang hubungannya dengan Rendy. Klise. Keluarga Rendy bukan keluarga idaman para orang tua yang lebih mementingkan status sosial dan kemapanan. Virly tidak habis pikir, siapa yang akan menjalani semua ini nanti? Dia atau kedua orang tuanya? Siapa yang akan menanggung derita batin hidup bersama orang yang tidak ia cintai? Untuk apa semua ini? Cinta bisa tumbuh kemudian? Bullshit!! Virly tidak percaya omong kosong seperti itu. Dia cinta Rendy titik. Sebaik apapun Ryan padanya. Dunianya makin jungkir - balik. Dan dia nekad mengarang cerita soal kehamilannya kepada Ryan. Supaya Ryan menyerah. Tapi sepertinya tidak semudah itu. Dan Virly makin frustasi. Dia hampir bisa meyakinkan Ryan. Tiba - tiba Rendy muncul begitu saja. Dari mana dia tahu Virly ada disitu?
Virly menatap dua lelaki dihadapannya. Hatinya seperti diremas tangan raksasa. Tuhan, akan seperti apa jadinya ini? Drama yang ia ciptakan sendiri, dan berbalik seperti bumerang. Ryan tetap pada pendiriannya untuk membawanya pulang. Ini tanggung jawab. Virly hampir saja merasa ditipu oleh perasaannya sendiri. Bahwa ia terkesan akan sikap Ryan? Mulai suka? NO!! Dia menarik nafas dalam - dalam. "Ry, maafkan aku. Aku tidak bermaksud membuat situasi jadi sesulit ini. Kamu orang baik Ry, hanya saja... Aku terlanjur mencintai Rendy. Perasaan tidak bisa ditipu kan Ry?" "Kenapa Vir? Kenapa baru sekarang? Kenapa kamu nggak bilang dari awal? Aku pasti membantumu dengan menolak pertunangan kita. Tapi sekarang aku terlanjur mencintaimu juga Vir, aku salah? Kamu bilang perasaan tidak bisa ditipu kan?"
Rendy mengepalkan tinjunya dalam diam. Dia memandang laki - laki didepannya dengan amarah yang meluap. Namun dia menahan diri. Ini tidak akan membawa hasil yang baik dengan mengumbar emosi. Bahkan mungkin bisa saja Virly jadi berbalik arah membencinya. Situasi saat ini benar - tidak menguntungkan dia dari semua sisi. Tapi dia pun tidak mampu memulai kata. Laki - laki macam apa yang tidak mampu berbuat apa - apa disaat gadis yang dicintainya berada diposisi sulit dan terancam diambil orang? Tanpa sadar dia menghela nafas panjang. Susah payah dia bersuara. Mengatur nafas agar tidak meledak ke permukaan. "Virly, sayang... Ya sudahlah. Mari kita ambil jalan terbaik. Kamu pulanglah bersama Ryan hari ini. Temui mama kamu dahulu, sayang. Aku akan menyusul 3 hari lagi. Aku harus mengurus cuti bukan? Kita temui orangtua kamu bersama - sama. Kalaupun ini tidak berhasil, kita sudah berusaha bukan? Aku tetap akan memperjuangkan kamu. Asal kamu tetap menjadi Virlyku. Aku tahu ini basi. Tapi kamu tahu aku tulus kan?" Belum selesai Rendy berkata - kata, tiba - tiba saja pintu depan rumah mungil itu di gedor dengan keras. Seolah - olah orang dibalik pintu itu tidak sabar mau menumpang ke WC. (Aku mules beneran. Oke skip)
Mereka bertiga bertatapan bingung. Terkejut dan hampir terserang panik. Ada apalagi ini? Rendy berlari kecil menuju arah pintu. Tergesa dia membuka pintu rumah kontrakannya yang seperti hampir tidak kuat menahan gedoran keras dari luar. Dan... Braaak!! Dia terjengkang kebelakang dengan keras. Hidungnya seperti berdarah. Belum selesai keterkejutannya, tendangan datang bertubi - tubi bersarang keras tanpa ampun di perutnya. Virly menjerit keras. Bahkan Ryan berusaha melerai mereka. Mang Jaya! Sopir mama berbadan besar itu seperti kesetanan menghajar Rendy yang sepertinya sudah hampir tidak mampu bergerak. "Mamaaaaaaaaaa.... Please stop it!!! Mamaaaaaaaaa....." Virly hampir saja kehilangan kesadaran dan bahkan itu tidak membuat mama Virly bergeming. Lalu tiba - tiba "Mang Jaya cukup!" Wanita setengah baya itu memandang Rendy yang terkapar. "Virly ayo pulang. Dan kamu Ryan, tante kecewa sama kamu. Tante berharap kamu membawa Virly pulang, kalian justru berada disini membuang waktu."
Virly yang kebingungan dan panik. Takut dibawa pulang paksa, tidak lagi mampu menahan diri. Nekad dia berlalu menyeruak ke arah pintu. Ryan tidak siap, bahkan mang Jaya masih mengatur nafas. Virly secepat kilat berlari ke arah jalan, menuju tukang ojeg yang mangkal diujung jalan. Mama Virly yang sigap segera berteriak menyuruh mang Jaya mengejar. Bahkan Ryan pun ikut gegabah mengejar Virly. Tapi....
Bersambung ye xixi...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar