Selasa, 28 September 2010

Gadis kecil dan saputangan lusuhnya

Gadis itu lusuh dan selalu kotor, setiap pagi selalu kulihat di perempatan lampu merah membawa bass betot yang besarnya melebihi badan mungilnya. Menyanyikan lagu2 yang lagi happening dengan arransement ulang yang semrawutz, aku suka memandanginya tiap berhenti karena lampu merah menyala, dan yang tak pernah aku lupa adalah dia selalu membawa saputangan merah lusuhnya. 1 hari ketika dia ngamen di tempat aku menghentikan motor, aku tak dapat menahan penasaranku untuk bertanya, “ Eh namanya siapa sih dik?” “Retn0 mba’!” jawabnya ramah, duh senyumnya sbenernya manis banget, sayang dia kotor dan lusuh. “Tuh saputangan ga’ pernah absen ya?” tanyaku lagi, “Ini di kasih ibu mba’, buat jagain aku.” Belum sempat aku ber tanya lagi, lampu hijau sudah menyala, bergegas aku tancap gas.
Walaupun aku masih penasaran akan jawaban gadis itu, aku harus menunda banyak sekali pertanyaan di kepalaku, sayangnya pulang kerja aku tak bisa melewati jalan itu karena jalan itu one way, namun aku bertekad besok harus ketemu lagi menuntaskan rasa ingin tahuku.
Esoknya,ke tika aku melewati jalan itu dan berhenti di lampu merah seperti biasa, kulihat Retno sudah tidak lagi membawa bass betotnya lagi, tapi menggendong seorang anak kecil dengan gendongan yang tak kalah lusuhnya. Astaga!! Apa itu adiknya..atau? segera aku tanya ketika dia sampai di tempatku, “ Retn0, itu adiknya ya?” “Bukan mba’, ini aku nyewa dari ibu itu tuh yang duduk di trotoar, 1 jamnya 1500!” whatZ?!! saking bengongnya aku tak menyadari lampu hijau sudah menyala dan klakson kendaraan di belakangku menyalak riuh.
aku sudah agak melupakan peristiwa itu ketika sabtu pagi yang notabene aku libur kerja , karena suntuk dan bosan terbelenggu dinding (huiks…kaya orang bener aje ) aku memutuskan untuk jalan2 kemanapun motor butut setiaku membawaku, entah mengapa stang motorku seperti tergerak ke perempatan lampu merah tempat Retno biasa mangkal. Kulihat dia masih dengan riang ngamen, tak lupa bass bet0tnya ditenteng dengan wajah cerah. Aku membelokkan motorku ke kiri yang bebas jalan dan memarkirnya di gedung sebuah bank yang ada di situ.
Dengan berjalan kaki aku kembali ke tempat itu, tapi…ya Allah?!! Terdengar bunyi mendecit dan suara dentuman keras..seketika suasana riuh dan kacau balau, kecelakaan!!!
Dengan perasaan tak karuan aku berlari kearah kerumunan, korban di angkat ke bahu jalan, aku berusaha menyeruak di antara kerumunan 0rang2 dan Astagfirullah..Retno!!! Kepalanya penuh darah, masih mendekap saputangan merahnya, dia masih merintih tak jelas..
Reflek aku sentuh lehernya yang juga penuh darah. Ada denyut lemah, panik aku merogoh kantong celanaku mencari handphone dan segera menelepon ambulan. Tapi… ambulan belum sampai dan polisi sibuk sendiri di TKP, kulihat Retno tak bergerak, kusentuh tubuhnya dingin, aku gemetar, air mataku meleleh tanpa sadar..
Kuraba lehernya lagi.. denyutnya menghilang, takut lehernya patah aku tak berani gegabah memberi pertolongan pertama..dan ketika ambulan datang,Retn0 telah tiada..
Aku duduk terhenyak ketika ambulan yang membawa Retno meraungkan sirine pergi dari TKP. G0ntai aku melangkah menjauh dari hingar-bingar dengan air mata yang terus meleleh tak bisa kust0p . Ternyata saputangan itu gagal menjaga Retno .
Haruskah ada Retno-Retno yang lain lagi? Yang terkapar di jalan raya yang buas dan berbahaya? Sampai kapan itu berhenti? Kenapa kita-kita tak bisa mencegahnya? Kenapa kota besar seperti surabaya ini masih mengijinkan anak-anak jalanan berkeliaran di lampu-lampu merah seperti itu? Sampai kapan bangsa kita carut-marut seperti ini?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar