Selasa, 28 September 2010

peRi caNtiK bersaYap uNgu

Boring banget 0nline sementara soulmateku ketiduran kaya’nya. Kurebahkan tubuhku di kasur kempesku mungkin aku telah tertidur karena aku terbangun di sebuah padang luas penuh bunga warna warni yg harumnya sampai ke rongga dadaku, aku girang sekali, apa mungkin aku sedang ada di surga? (kuingat-ingat tadi sebelum tidur aku ngga minum baygon kok, berarti ngga mungkin bangetlah aku lagi ada d surga hehe..lagi pula kalau minum baygon aku ngga mungkin juga ada di surga.) Aku berlari-larian kegirangan mengelilingi sebagian kecil padang bunga yang luas itu (untung backsoundnya bukan lagu india.) kalau saja pangeranku bisa kubawa kedalam mimpiku ini, pasti aku tidak akan mau bangun-bangun lagi huehehehe.. (jadi kangen ihiks!) tiba-tiba ada yang menepuk halus pundakku, sontak aku menoleh..upz! caaaaantiiiik baangeet!! Itu kalimat pertama yang keluar dari bibirku (langsung bersyukur karena tak mengajak pangeranku ke sini. Bisa kalah pamor nih). Rambut ikalnya tergerai sampai pinggang, wajahnya putih mulus bersemu merah, matanya mengerjab-ngerjab indah, bajunya putih berjuntai sampai ke batas mata kaki dan yang benar-benar membuat aku takjub adalah sayapnya yang besar dan mengepak indah berwarna ungu..busyeeet!! Bibirku tidak mampu kukatupkan! Dia tersenyum lembut..”Hai!” Sapanya ramah, “Eeee..ha aaii juu..ga!” Gugup kubalas dia. “mau ikut ngga’?” katanya lagi. “Eeeh..anu.. mau ke mana?” (masih gugup total) “Nanti kamu juga tahu, yuk pegang tanganku..!” Gemetar kusambut tangannya yang terulur. Wiiiw!! Ini 0rang kagak pernah cuci piring apa ya?! Tangannya haaluuss pisaan euy!! (stupid question hehe..) Di ajaknya aku terbang entah kemana. Angin sepoi-sepoi meniup nyaman wajah dan rambutku..



“Aku ingin menunjukkan sesuatu padamu..nanti jangan banyak Tanya, tapi lihat saja ya!” Kata peri bersayap ungu itu padaku, aku mengangguk mengiyakan saja. Kami tiba di sebuah rumah yang kurasa tidak asing lagi, yup! benar..itu rumah orangtuaku!! Kulihat mamaku duduk di kursi santai, perutnya membesar, upz!! beliau seperti sedang hamil tua?!! Kulihat jam di dinding menunjuk angka 4, mungkin subuh. Tiba-tiba wajah mamaku memucat dan meringis kesakitan, aku panik tapi tak bisa menyentuhnya,beliau berteriak memanggil papaku yang sedang tertidur. Tergopoh-gopoh papa bangun dan menyiapkan mobil sementara mama di gandeng pembantu menuju mobil, mrk meluncur ke rumah bersalin. Bibirku komat-kamit namun tak dapat berkata-kata ketika peri bersayap ungu di sebelahku memberitahukan bahwa itu adalah saat di mana mamaku akan melahirkan aku. Tiba-tiba aku telah berada di antara ruang bersalin dan ruang tunggu, kulihat mamaku pucat dan mengerang ksakitan,seperti benar-benar kesakitan. Papa mondar-mandir di ruang tunggu, sementara air matanya berleleran di kedua pipinya, d0kter menghampirinya dan kudengar sayup-sayup dokter menghibur papa yang kalut, ternyata persalinan mengalami masalah!! telah hampir 3 hari sang jabang bebi (aku) tidak berniat untuk keluar juga,padahal mama mengalami pendarahan hebat.

Aku menangis tersedu-sedu tak kuat melihat penderitaan mama, seperti inikah pengorbanan mama agar dapat melahirkanku? Aku memang pernah mendengar dari papa tentang proses kelahiranku yang sulit, namun aku tidak mengira betapa mengerikan prosesnya. Aku terbangun dengan keringat dingin mengucur deras, air mataku tak dapat lagi di st0p dan aku terus terjaga sampai pagi menjelang. Apa yang ingin Allah tunjukkan kepadaku? apakah ini gara-gara hampir sebulan ini aku bentrok cukup keras dengan papa dan mama?Berkali-kali aku menentang mereka, mungkin telah tidak terhitung jumlahnya ketika aku berbeda pendapat dengan mereka maka jurus andalanku adalah ngambeg dan seolah-olah tidak menganggap mereka ada. Tidak terlalu kupikirkan, tapi mungkinkah alam bawah sadarku yg bereaksi keras? Atau mungkin juga mereka (0rtuku) memendam kesedihan karena aku bukannya menurut tapi terus saja melawan mereka? Terkadang aku benar-benar tidak memahami keinginan dan pikiran-pikiran mereka. Aku tahu tidak ada orangtua yang menginginkan anak-anak mereka jatuh dalam kesengsaraan, kenestapaan apalagi kenistaan. Tapi mereka terkadang lupa bahwa anak-anak mereka mempunyai kepala yang isinya jauh berbeda dari yang mereka punya. Mereka lupa bahwa hati dan perasaan mereka jelas tidak sama. Kami sebagai anak-anak mereka butuh dukungan dan bimbingan dan bukan hujatan semata tanpa alas an yang dapat diterima oleh akal-akal pikiran kami. Kami kritis! Tapi kami terbuka untuk saran membangun. Walaupun kami di satu waktu pernah tersadar bahwa pilihan kami mungkin salah.


ketika jam menunjukkan pukul 5 pagi segera kuraih hpku, kutelp mama…mama mama you kn0w I love you..! Aku janji tidak akan lagi terlalu keras pada mama dan papa, terutama mamaku. Janji bakal nurut atau paling tidak aku tidak akan lagi langsung menentang walau permintaan mereka kadang-kadang imp0sible banget hehehe aduuuuhhhh…. Aku kangen banget sama mereka ihiks!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar