Selasa, 28 September 2010

'Matahari'ku dan 'Nafas'ku

Ini adalah sekelumit kisah tentang matahariku. 'Nafas'ku memburu mendekapku. Tp matahariku memandang kami tanpa cemburu. Justru aku yang mulai mencemburui bulan. Dia dekat, sangat dekat dengan matahariku.

Tapi aku tahu, matahariku takkan pernah dengan sengaja menyakitiku. Dia hanya menjaga jarak agar aku tetap aman. ''Demi kebaikanmu'' katanya. Lama aku baru bìsa mengerti maksudnya, dia sayang padaku. Ingin selalu melindungiku. Mendengarkan dgn sabar semua celotehku, berusaha membuat aku nyaman. Tapi tidak lebih dari itu, karena dia harus mendekap rembulannya. Dan berusaha membuat aku mengerti akan arti 'nafas'ku. Betapa aku harus selalu ber'nafas'.
Bahwa 'nafas'ku mencintaiku. Dan dia bahagia untuk itu.

Matahariku.. Aku tahu engkau mengerti cintaku padamu. Mungkin dulu ketika aku masih muda dan naif, aku tidak mengerti dan tidak mau menerima apa yang telah kau perbuat kepadaku. Aku tahu apa yang telah terjadi di antara kita adalah kekeliruan. Seharusnya kita berdua tetap pada garis di mana engkau tetap menjadi sosok kakak yang selalu kurindukan. Dan kau lebih dari cukup menjadi kriteria kakak untukku. Aku selalu merasakan hangatnya peluk sayangmu, perhatianmu, pedulimu padaku. Betapa hari terindah dalam hidupku adalah hari dimana kau selalu menemaniku dulu. Membekas begitu dalam hingga bertahun-tahun. Dan aku telah salah menilai rasa. Kau adalah kakakku, temanku. Harusnya hanya itu. Aku tidak pernah menyalahkan keterlenaanmu hingga membuat posisi kita sampai lepas dari orbit yang seharusnya. Aku menyalahkan diriku sendiri karena membiarkan itu terjadi dan terlarut begitu dalam.

Kau tahu? Sampai sekarangpun kau tetap hangat seperti dulu. Walaupun tembok pembatas semakin jelas di antara kita. Kau tetap tersenyum dan meladeni ocehan dan kemanjaanku. Tapi kau tetap berada di tempat seharusnya berdiri.

Kini aku mengerti, itulah yg seharusnya terjadi. Aku bahagia melihatmu bahagia bersama rembulanmu. Dan 'nafas'ku adalah hidupku yang sekarang. Dia sebaik dirimu, dan tentu saja aku juga sangat mencintainya. Dia adalah 'nafas' hidupku. Dia mengerti aku seperti kau mengerti aku. Mungkin lebih. Dalam diamnya dia sangat mencintaiku. Menemaniku dikala aku terluka karenamu. Dan aku memilihnya seperti kau memilih rembulan.

Matahariku.. Tetaplah tersenyum dan menemaniku seperti dulu. Tapi tetaplah berdiri di batasmu. Karena aku sayang padamu. Tanpa di kotori oleh cinta buta, aku sangat sayang padamu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar