Selasa, 28 September 2010

A Child Called "It"

Tiba-tiba aku menemukan buku ini di daftar e-bookku. Setengah hati aku mulai membuka page pertama. Ada 154 page! Berarti pasti buku dan layak baca. Bukan apa-apa karena aku sering menemukan blog-blog sampah kalau pagenya di bawah 50 halaman. Aku masih terheran-heran ketika membaca paragraf demi paragraf, awalnya aku pikir ini novel terjemahan dan belim jelas ini terntang apa. Aku sendiri tidak ingat kapan aku mendownloadnya.

Setelah 1 page terlewati aku mulai mengerti, karena bahasanya lugas dan mudah di mengerti tidak seperti kebanyakan novel-novel atau buku-buku terjemahan lainnya yang mampu mendiskripsikan secara detail setiap gerakan, baju, pemandangan, cuaca dan tingkah laku. Ini kisah nyata penulisnya yang bernama David Pelzer tentang "child Abuse" atau kekerasan yang di alami semasa kanak-kanak dalma keluarganya. terpaku aku membaca halaman demi halaman. Merasakan kesakitannya, amarahnya, kebenciannya kepada dunia, kesepian-kesepiannya, krisis kepercayaan akut dan jiwa yang memberontak. Semua perasaan yang mencoba kuat dan survive, sakitnya di cemooh oleh lingkungan, merasa tidak dianggap di dunia, harga diri yang terhempas, perasaan tidak diterima, rapuh, kotor dan ketidakmampuannya mengungkap perasaan kepada siapapun.

Selesai membaca airmataku meleleh tanpa sadar dan berhari-hari aku hanya mampu menangis diam-diam. Aku seolah melebur ikut merasakan semua, walau tubuhku tidak terluka seperti David, namun jiwa dan batinku sama sakitnya dengannnya. Seketika semuanya, hala-hal yang selama ini menjadi sebuah momok bagiku, hal-hal yang selama ini aku simpan dan kututup rapatdi dasar terdalam hatiku mmenyeruak begitu saja. Aku bisa merasakannya mengalir dalam setiap pembuluh darahku, membangkitkan mimpi-mimpi buruk yang selalu meneror malam-malamku. Hal yang bahkan aku sendiri tidak mampu menjenguk dan melihat kembali kedalamnya. Perasaan yang sama sekali tidak ingin kuungkap dengan siapapun selama ini selama bertahun-tahun. Tidak juga pada Tuhan.

Aku memang tidak mengalami penyiksaan fisik separah David. Bahkan yang kualami mungkin tidak ada 5%-nya dari yang David alami. Tapi aku tahu pasti bagaimana rasanya terbuang. Sama seperti dia, rasanya aku rela menukar apa saja untuk sebentuk cinta yang aku anggap mitos, sebentuk perhatian dan setitik sayang dari siapapun dan bagaimanapun caranya. Dan penyerahan diriku seutuhnya kepada suamiku adalah puncak dari semuanya. Hanya dia yang saat itu begitu perduli dan membutuhkan aku sementara semua telah berlalu pergi meninggalkan aku begitu saja.

Anak-anak korban Child Abuse (Dengan beragam bentuk, tidak melulu melalui penyiksaan fisik, tapi semua perlakuan yang tidak menyenangkan terkait dengan tumbuh kembangnya dimana di usia-usia seperti itu sama sekali belum mampu menerima perlakuan, melihat perbuatan dll yang seharusnya diterima anak-anak seusianya) selalu menjadi kategori Anak Nakal, Anak Bandel, Pemberontak Nomor 1 sekaligus rendah diri yang berlebihan untuk berbicara dan mengungkap perasaan, menjijikkan dan menyebalkan di lingkungannya, sementara orang lain tidak tahu seperti apa yang di alami oleh mereka. Orang-orang hanya bisa men-judge tanpa ampun, menertawakan dan menabur garam di "luka-luka" mereka. Kalaupun ada yang tahu dan berusaha menolong, pada akhirnya mereka akan mundur teratur.

Alhasil banyak sekali kriminal, psyco dan orang-orang tidak waras dll yang dilatar belakangi child abuse. Karena hanya sedikit sekali para korban child Abuse yang mampu mengungkapkan "penderitaannya". Selebihnya mereka hanya diam dan membiarkan "monster" yang paling jahat keluar dari dalam jiwanya dan meneruskan tradisi child abuse pada orang-orang yang dicintainya.

David dan aku sama dalam beberapa hal ; kami sama-sama survivor. Bukan saja dari child abuse itu sendiri tapi juga dari "monster" jahat yang sempat menguasai kami. Sama-sama kleluar dari lubang hitam yang seolah menyedot dan menghisap kami tanpa ampun. Mungkin David lebih beruntung karena berhasil menjadi pribadi yang berbeda setelahnya. Di tempat penampungan anak-anak korban child abuse, dia berhasil bangkit dari keterpurukan dan kerusakan mental secara permanen. Dia berhasil karena dia berani menatap masa-masa gelapnya dan mengungkapkannya di depan publik bahkan menuliskannya dalam satu buku. Karena aku tahu apa yang dia alaminya benar-benar dahsyat. Benar-benar penyiksaan fisik, batin dan mental selama bertahun-tahun. Dan dia berhasil melewatinya dan mampu bertahan hidup.

Akupun sempat berjuang keras melawan 'monster' itu sendirian. Setelah masa di mana aku merasa terlepas dari lubang gelap, selama bertahun-tahun aku berjuang melawan rasa sakit, kesepian dan mimpi-mimpi buruk yang bahkan sampai sekarangpun masih sering aku alami. Aku memang tidak seberani David Pelzer dalam mengungkap sisi gelap hidupku. Karena aku selalu berpikir bahwa semua orang akan menyerang dan mengucilkan aku ketika aku mulai membuka diri. Aku benci tatapan iba, dan aneh yang di tujukan padaku. bukan itu yang kubutuhkan!

Sempat terpikir olehku " Siapa dan apalah diriku ini hingga merasa pantas menerima kebaikan dari dunia dan Tuhan?" " Apalah artinya diriku ini sehingga merasa pantas di cintai?" Berulang kali aku berusha meyakinkan diriku bahwa aku "Pantas" Namun semua kembali runtuh dalam sekejab. Aku merasa kecil, rapuh dan tidak berarti.

Menyaksikan seluruh mimpi dan kesempatanku terbang begitu saja dan meninggalkan aku sendirian seperti semua orang pergi berlalu dariku tanpa berusaha menoleh lagi padaku. Terus membangun benteng-benteng pertahanan diri yang aku tahu itu hanya akan menyakiti aku. Memburu semua buku2 psikologi untuk menolong dan mencari pembenaran bagi diriku sendiri. Dan bahkan suamiku sendiri yang terus mendampingi aku tidak tahu bahwa aku membenci dunia. Membenci siapa saja, membenci semuanya dan membenci diriku sendiri. Membuat semua orang-orang terdekatku percaya bahwa aku mencintainya padahal aku membenci mereka. Aku bahkan membenci semua kebaikan-kebaikan mereka karena aku tidak mampu sama sekali melihat ketulusan.

Aku berharap mampu keluar dari semua ini secara damai mengikuti jejak David Pelzer.Tapi lubang hitam masih terus mengikuti dan siap menelan aku hidup-hidup jika aku lengah sedikit saja.

Aku berharap aku mampu memberikan yang terbaik kepada anak-anakku. Sekuat tenaga melindungi mereka dari perasaan-perasaan dan perlakuan-perlakuan buruk. Karena apapun bentuknya, dan seringan apapun itu, child abuse membawa dampak negatif secara psikologi yang benar-benar tidak mampu dibayangkan oleh siapapun. Selembar kertas putih dalam hidup mereka tidak boleh di nodai oleh setitikpun kesalahan yang merdampak rusaknya mental dan jiwa-jiwa murni mereka. Pelajaran kepada para orang tua, betapa mendidik anak adalah hal yang sama dengan berjalan di atas kulit telur, sedikit saja kita melakukan kesalahan maka harga yang harus di bayar adalah jiwa.

Rasanya sekarang aku tidak lagi mengejar cinta dan kasih sayang yang mampu aku tukar dengan apapun. Sekarang aku rela menukar apapun dalam hidupku bahkan hidupku sendiri asalkan anak-anakku bahagia. Jauh dari sakit dan kesedihan baik fisik dan mental lahir maupun batin. Mengantarkan mereka ke happiness gate dan membantu mereka mendapatkan apa yang mereka impikan. Impian mereka dan bukan impianku. Aku akan terus hidup untuk itu. Aku tidak akan menoleh kebelakang lagi. Semua sudah berakhir.

1 komentar:

  1. then your future childrens will have a greatest mother on earth.

    BalasHapus