Selasa, 28 September 2010

GiLa daN baNggA!

Bukan aku kalau tidak aneh-aneh, entah kelakuan atau dalam cara berpikir. Justru mungkin karena agak kurang waras itulah aku merasa mampu bertahan dan melanjutkan hidup. Hehehe….salah satu bentuk pembenaran diri. Masih ingat betul semua teman-teman dekatku selalu menjuluki aku gemblung alias gelo alias lagi gila! Aku sih senang-senang saja, paling tidak kan aku jadi ngetop. Hehehe…Gemblung kok bangga?! Mungkin karena aku jarang serius ya, jadi aku tidak akan membiarkan suatu kondisi yang mengelilingiku berlalu di depan mata dengan garing. Tapi jangan salah! Pada saat tertentu ketika aku di butuhkan untuk serius maka aku akan segera merubah settingan jadi amat sangat serius, contohnya kalau aku lagi tidur , pasti aku bakal tidur dengan sangat serius, tidak pakai ngocol. Sumpah!
Tapi bukan itu yang ingin aku ceritakan di sini. Konon, dahulu kala, ketika aku masih sangat muda. Umur masih belasan tahun, naïf, agak bodoh. Sangat imut dan cantik (Yang terakhir jelas fiktif). Jaman itu adalah awal-awal aku mulai di rantau orang untuk meneruskan cita-cita bangsa sebagai anak kuliahan. Tepatnya tahun berapa sudah lupa dan orang gila jelas tidak perlu diprotes dong hehe… Waktu itu aku memutuskan untuk kost di dekat kampus. Alasan utamanya adalah karena dekat, dan kalau dekat jadi ada pengiritan karena tidak perlu lagi memikirkan membeli satu amplop duit tambahan yang bertuliskan “BIAYA ANGKOT” tuh kan? Belum apa-apa sudah irit hihi.. Lingkup kampusku sangat dekat dengan sebuah mall yang tidak terlalu besar, tapi sangat strategis dan serbaguna. Karena walaupun kecil, mall itu mempunyai fasilitas yang lumayan lengkap dan cukup terjangkau oleh saku-saku mahasiswa iseng hehe…
Dapat dipastikan semua mahasiswa di universitasku terutama di kampusku, sudah pernah menginjakkan kakinya di mall itu. Mulai dari yang memang serius mau belanja barang-barang obral dan diskon, pacaran dan nonton di bioskop 21-nya, ngeceng dan JJS, bahkan bekerja paruh waktu di sana. Aku? Aku sih tidak termasuk semua jenis yang aku sebutkan tadi kalau ke sana. aku kan ownernya! (sumpah yang barusan tadi itu jelas khayalan). Bukan apa-apa sih sebenarnya, aku bukan termasuk cewek yang doyan belanja ( karena dompet tidak pernah dalam kondisi gemuk) jadi tidak mungkin menemukan aku lagi belanja kecuali sembako. Urusan beli baju dan lain sebagainya, aku lebih senang belanja bareng mamaku karena sudah pasti aku tidak perlu memikirkan anggaran. Bukankah itu jenius?
Waktu itu juga aku kebetulan tidak punya pacar alias jomblo. Bukan karena aku tidak laku pacaran (ihikz!) tapi aku selalu memimpikan di jemput pangeran berkuda putih, minimal BMW (becak merah warnanya). Dan di jaman itu tidak ada cowok yang seperti itu. Jadi aku tolak semua kandidat yang maju (aslinya aku yang di tolak para kandidat yang ada di list cintaku hehehe). Lagi pula aku sangat anti pacaran sambil nonton terutama di bioskop. Alasan utamanya adalah karena aku sangat hobby nonton film. Lho? Iya justru karena aku sangat cinta film maka kalau aku memang ingin nonton film di 21, maka aku akan meminimalkan gangguan dalam bentuk apapun. Termasuk teman dan pacar. Karena menurut pengalaman pribadiku, ketika mencoba nonton bareng mereka-mereka, maka yang ada kami bukannya nonton adegan film tapi justru malah menciptakan adegan sendiri. Oh! Yang jelas aku jadi tidak konsen sama sekali. Rugi bandar!
Eh kok jadi cerita yang iya-iya sih? Sebenarnya yang ingin kuceritakan adalah adanya satu jalan memotong kecil tepat di sebelah kampusku yang menuju ke mall itu. Kebetulan tempat kostku yang strategis itu melewati mall itu. Dan jalani itu adalah alternative yang tidak bisa di tolak begitu saja. Kebetulan banyak anak-anak yang kost di tempat aku kost juga kuliah di lingkup universitas yang sama denganku walaupun beda kampus. Nah kami-kami para street walker alias anak-anak yang hobby jalan kaki ( baca: tidak punya kendaraan ) sering berbarengan pulang-pergi ke kampus-kost melewati jalan itu. Suatu sore ketika pulang dari kampus, aku kebetulan ber-lima dengan teman-teman yang lain seperti biasa melewati jalan itu. Jalan itu sebenarnya tidaklah terlalu kecil, lebarnya mungkin lebih dari 4 meter. Hanya saja belum tersentuh aspal dan di bahu sepanjang jalan di tumbuhi pohon- pohon rindang. Yang jelas jalan itu amat sangat nyaman. Ketika sedang asyik-asyiknya kami berjalan santai menikmati udara sore dan bercanda tak henti-hentinya, kami tidak terlalu memperhatikan ada mobil sedan mungil yang parkir di depan kami. Kami baru sadar keberadaan mobil itu ketika jarak dari mobil itu kurang dari 2 meter. Kami lihat pemiliknya berdiri tepat di samping pintu depan mobil yang terbuka. Cowok! Cakep bangeeeeeet! Uhuks… kami yang notabene para cewek yang haus kasih sayang pria tampan berdada bidang langsung terpukau dan mulai mencuri-curi pandang. Namun ketika jarak kami tinggal setengah meter dari tempat cowok nan ganteng itu berdiri, tanpa di nyana, tanpa di duga sang cowok tersenyum, memandang kami dan… dia membuka resleting celana panjangnya dan menurunkan celana itu tepat didepan kami. Dengan tersenyum bangga dia memamerkan rudal berpeluru airnya di depan kami tanpa sungkan apalagi malu. My GOD! Spontan kami menjerit kaget dan segera lari pontang-panting dengan perasaan yang bercampur aduk. Malu, kaget, jijik, terharu, napsu, bahagia…eh lho?
Tapi setelah sekitar hampir 4 meter kami berlari lintang pukang dan terseok-seok, tiba-tiba aku mendapatkan kembali kesadaranku. Seketika aku stop teman-temanku. “Jangan lari, jangan kelihatan takut! Justru karena itu orang sarap tadi bakal hepi dan puas.” Kataku kepada teman-temanku ketika selesai mengatur nafas yang hampir hilang. “Terus gimana dong?” celetuk mbak Rahmi temanku yang paling senior. “Tenang bu! Kalian semua balik lihat ke dia lagi, pasang tampang biasa saja. Usahain stay calm oke? Selebihnya serahkan padaku!” jawabku di tabah-tabahkan. Sebenarnya aku takut sekali, tapi karena ketidak warasanku lebih besar dari pada rasa takutku maka aku nekad. Perlahan namun pasti dan dengan dada berdebur keras aku berjalan mendekati si eksibisionis tampan yang masih memperlihatkan roketnya sambil tersenyum puas dan mesum tadi. Begitu agak dekat segera saja aku berkata dengan suara yang tidak terlalu keras dan ketenangan yang luar binasa, “ Aduh mas mas… wong cacing pita kok di pamer-pamerin sih? Malu tauuuuk!” habis itu aku langsung membalikkan badan dan berjalan santai menuju gerombolanku kembali. Masih sempat ku tengok kebelakang sambil senyum-seyum simpul mengejeknya. Masih sempat kulihat wajahnya yang berubah pucat dan jengkel setengah mati. Buru-buru dia memakai secara kilat celananya kembali dan segera memacu mobilnya lumayan kencang menderu melewati kami. Sontak teman-temanku tertawa riuh dan memberi applause dengan histeris. Heeeebriiingggg euyyyy! Teriak mereka sambil masih tertawa terbahak-bahak, sementara aku mati-matian menahan diri untuk tidak pingsan karena luar biasa tegang.
Sampai aku selesai kuliah di sana pun, jalan kecil itu tetap jadi favorite dan para eksibisionis jenis seperti itu masih juga datang dan pergi. Berganti pemeran dan metode serta kendaraan. Herannya, rata-rata mereka selalu mempunyai kendaraan yang ‘wah’ dan berwajah tampan. Tapi teman-temanku sekarang tidak gentar lagi melewati jalan itu asalkan tidak sendirian sih mereka tenang-tenang saja. Bahkan tiap kali kami bertemu dengan penderita seks menyimpang jenis itu, spontan kami akan berteriak “ Aiiihhh….cacing aja banggaaaa…!” ahaha…

Tidak ada komentar:

Posting Komentar