Selasa, 28 September 2010

Just like a flowers, let it growing wild

Pernah suatu waktu aku melihat bunga yang sangat indah di sebuah taman kota, bunga itu indah sekali, warnanya merah cerah seperti kembang sepatu, dan selalu mekar yang satu menggantikan yang lain. Baunya pun wangi persis bunga-bunga yang ada dalam dongeng, pengurus taman tampaknya sangat sayang sekali,hingga di beri pagar bertuliskan “Jangan petik aku!” Suatu sore aku melihat seorang bapak-bapak yang mungkin pengurus taman sedang menyiangi dan memberi pupuk bunga itu, kebetulan pikirku, mungkin aku bisa minta bibitnya. “Misi pak, mau tanya tuh bunga apa sih?” tanyaku sopan, si bapak menoleh dan tersenyum ramah, “Bagus ya neng? Saya sendiri ngga tau namanya, tapi saya suka sekali, sayang ini bunga ringkih, gampang mati dan penyakitan, makanya saya rajin banget merawatnya.” Aku manggut-manggut dan jadi teringat kisah Linda dan Lindi..
Mereka adalah gadis kecil kembar yang telah menghuni sebuah RSU dari mereka mulai dapat melihat dunia, konon ibunya kabur sehari setelah proses persalinan, cerita yang simpang siur aku dengar dari para dokter senior atau kakak kelas sesame co-ass di rumah sakit ini, beberapa mengatakan kalau si ibu adalah seorang gelandangan yang di temukan di beranda RSU sedang kesakitan karena mulai mengalami proses persalinan. Ada pula yang mengatakan mereka adalah hasil hubungan pra-nikah. Yang jelas aku tidak terlalu ambil pusing karena aku lebih fokus pada kedua bocah lucu-lucu nan cantik ini.
Mereka berumur sekitar empat tahun-an, Linda sang kakak yang lahir lima menit terlebih dahulu adalah anak yang sangat lincah, matanya selalu berbinar setiap kali berceloteh, semua staff RSU termasuk para dokter sangat sayang padanya, mungkin karena bawaannya yang selalu riang dan jarang rewel. Tubuhnya montok dan menggemaskan. Yang jelas dia adalah idola di situ.
Tiap pagi ada saja yang berebutan memandikan atau menyuapi Linda, tawa riangnya selalu jadi backsound tetap dibagian bayi dan anak-anak RSU ini. Semua mengawasi dengan ketat, tumbuh kembangnya, gizinya, dan lain sebagainya yang menurutku berlebihan. Kalau mereka sesayang itu kenapa tak satupun mencoba mengadopsinya? Konon ada aturan tak tertulis yang menyebutkan bahwa jika ingin mengadopsi, maka Linda dan Lindi adalah satu paket yang tidak boleh di pisahkan. Sementara mereka hanya mau Linda dan bukan Lindi.
Lain halnya Lindi sang adik, dia sangat pendiam dan suka agak rewel, satu lagi dia punya penyakit jantung bawaan, hingga mungkin itu jadi kurang di perhatikan. Aku suka saja memperhatikan Lindi yg pendiam, dia lebih suka bermain sendirian di ranjangnya, kalau di ajak bicara dia akan menatap lawan bicaranya tapi tanpa mengucap sepatah katapun,beberapa dokter kadang suka khawatir, jangan-jangan ini anak autis juga? Menurutku sih sebenarnya bukan autis, dia hanya pendiam saja dan orang-orang sebelum aku itu juga kurang telaten memperhatikan dan mengajaknya berinteraksi, terbukti berkali-kali aku mampu mengajaknya bercanda dan beberapa kali dia mengucapkan namaku walaupun tidak begitu sering.
Suatu hari terjdi kehebohan, si Lindi di dapati pingsan di ranjangnya, beberapa dokter jaga segera memberikan pertolongan pertama sebelum dokter spesialis datang dan sebelum gadis kecil itu mengalami gagal jantung. Sayangnya cardiovascular belum bisa di laksanakan d RSU ini,andaipun bisa, bukankah dibutuhkan biaya yang tidak sedikit? Tiba-tiba terjadi kehebohan lain, Linda sang kakak di temukan telah kaku di ranjangnya.. Astagfirullah! Ada apa ini? Kenapa justru Linda yang sehat di nyatakan mengalami disfungsi jantung? Kenapa hal ini bisa tak terdeteksi dari awal? Banyak orang menyesalkan hal ini dan berkabung untuk waktu yang lama, mereka telah menganggap Linda adalah ikon rumah sakit ini. Kesedihan yang terlalu dalam dan kenangan akan kelucuan dan kelincahan Linda membuat pandangan mereka beralih pada Lindi yang terbaring koma, harapan dapat menyembuhkan Lindi seperti menjadi prioritas tim medis di sini, segala cara dilakukan bahkan sampai ada yang berpayah-payah mencarikan donor jantung ke berbagai daerah dengan anggaran pribadi. Aku bertepuk tangan diam-diam seraya mulai berpikir yang aneh2. Andai Linda saat itu sehat dan tetap hidup apakah usaha mereka terhadap Lindi bisa mencapai tingkat maksimal seperti itu? Walaupun sangat tidak fair aku sempat mensyukuri kematian Linda, tapi segera tersadar kembali bahwa semua telah diatur olehNya…Dia selalu mempunyai cara kerja yang sangat misterius. Kita tidak tahu apa yang akan terjadi, hanya mampu bersyukur,berikhtiar dan pasrah. Tiap doa adalah kata hati yang paling murni. Karena aku yakin secara psikologis, sebagian besar orang berani berdoa kepada Tuhannya ketika mempunyai itikad baik saja. Ketika beritikad tidak baik maka dia hanya akan berharap dan bertindak tanpa menyebut nama Tuhan (ketika menuliskan paragraph ini aku tertawa dalam hati, ingat bahwa aku pun pernah begitu)
Dan Lindi? Ternyata doa dan ikhtiar banyak orang yang beritikad baik (entah kenapa aku ingin tertawa lagi) mengantarkannya pada kesembuhan. Bertahap namun pasti dan stabil. Yang agak mengejutkan adalah perubahan karakter Lindi, dia jadi lincah dan ceria, matanya berbinar-binar tiap kali berbicara, selalu menebar tawa riangnya dimana-mana. Sebagian besar penghuni dan staff RSU setuju dengan salah satu pendapat yang entah dari mana awalnya, bahwa roh Linda sang kakak menyatu dalam tubuh Lindi, dan bahwa sebenarnya roh Lindilah yang telah tiada. Ya ammmpyuuuuunnn…..!! Ini sungguh membosankan! Mereka adalah orang-orang berpendidikan namun masih saja berpikir seperti itu. Maksud aku, apakah mereka tidak bisa berpendapat yang lebih cerdas dan tidak berputar dalam lingkaran setan yang mengelilingi hal-hal yang mengidolakan satu orang sampai apapun dikait-kaitkan dengannya? Sehingga menurunkan kualitas yang sebenarnya dari orang lain yang dianggap membayangi? Hal ini seakan sebuah fenomena yang tidak bisa di ingkari dan di hapus begitu saja….
Kalau menurutku, Lindi kini berubah seperti itu karena dia sekarang mendapatkan banyak sekali perhatian yang dahulu amat sangat dibutuhkan namun terlimpahkan semua kepada saudaranya. Sampai sekarang dia sehat tak kurang suatu apapun. Senyum dan tawanya menghiasi setiap sudut bagian anak-anak. Namun aku berharap orang-orang disekitarnya tidak lagi bertindak berlebihan seperti terhadap almarhumah Linda karena sama seperti bunga di taman itu, Linda yang cantik, lincah dan begitu ketat di jaga dan disayang justru lebih sakit dan tak tertolong. Mungkin biarlah apa yg kita sayang tumbuh wajar spt bunga liar..namun tetap kita jaga secara wajar tanpa berlebihan, hingga suatu saat ketika kita kehilangan tidak akan terlalu sakit! (sampai saat blog ini aku postingkan, aku masih tidak tahu kenapa aku terlihat sinis sekali.)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar