Senin, 08 Juni 2015

Suatu pagi di warung soto..

Kurasa aku punya kebiasaan baru. Dengan harapan mendapatkan moodbooster setiap pagi, aku selalu mencoba sarapan di tempat - tempat makan berganti - ganti dengan bermacam - macam menu yang membuat pagi dan mengawali hari dan rutinitas jadi menyenangkan. Aku tidak suka terburu - buru makan pagi. Seperti kebanyakan orang - orang. Aku akan menikmati suapan demi suapan sambil memikirkan hal - hal menyenangkan. 

Pagi itu seperti biasa aku segera hunting. Tempat sarapan apa kira - kira yang bakal menyenangkan. Ah, iya.. Soto ayam lamongan! Yes, dan segera aku berangkat ke warung soto ayam lamongan langgananku. Sesampainya disana sambil menunggu pesanan sotoku, aku melihat dua orang anak kecil makan bersebelahan. Aku pikir laki - laki yang duduk berseberangan dengan mereka mungkin ayah mereka atau saudara mereka atau apalah.. Aku tidak ambil pusing. Sementara sotoku belum datang juga. Aku lihat laki - laki di seberang dua orang anak itu sudah tidak ada lagi. Rasa penasaranku datang. Pemandangan dua orang anak kecil sekitar umur 8-9 tahun makan sendirian di warung makan seperti ini tanpa didampingi oleh orang yang lebih tua itu langka. 
Sampai rasa penasaranku semakin menjadi. Aku bertanya pada mereka. (Aku sengaja duduk berseberangan namun satu meja dengan mereka.) "Makan sama siapa dek?" Salah satu anak itu yang terdekat denganku diam saja, tersipu - sipu. Namun anak yang lebih besar segera menjawab, "Berdua saja mbak." Sambil tersenyum manis.

 Lalu tiba - tiba dia bertanya kepada anak yang malu - malu tadi disebelahnya, "Sotoku sudah habis belum, dek?" Si anak di sebelah dia tersenyum dan menjawab, "Belum, mas. Sedikit lagi." 
Aku heran, mengapa dia bertanya seperti itu? Dia buta? Memang mata si anak itu agak aneh. Aku perhatikan sekilas tadi, sempat bertanya - tanya dalam hati, kenapa mata anak ini? Tapi perhatianku langsung teralihkan oleh soto pesananku. 
Iya, ternyata dia buta. Mas - mas penjual soto mendatangi mereka, seraya bertanya, "Ada yang mau nambah sotonya?" Dua orang anak itu menggeleng bersamaan. "Sudah kenyang, pak. Makasih." Mas penjual soto menambahi, "Kalau pagi dan kalian lapar, mau sarapan. Datang kesini aja ya.." Si anak yang buta tadi mengangguk dan menjawab, "Berapa  semua pak?" Mas penjual soto menggeleng. "Tidak usah dek, setiap pagi kalian boleh sarapan soto disini. Gratis." 

Aku yang sedang asyik dengan duniaku, dan tentu saja sotoku, langsung tertarik memperhatikan mereka lagi. "Kalian tinggalnya dimana, dek?" Kali ini anak yang sedari tadi diam, menjawab, "Panti asuhan 'A' mbak, di daerah 'B'." Aku semakin tertarik, "Kelas berapa dek?" "Aku kelas 2, mas yanto ini kelas 3." Sembari masih tersenyum malu - malu anak yang lebih kecil itu menjawab. 

Aku terdiam termangu. Sibuk dengan pikiranku sendiri tentang mereka. Sibuk memuji dalam hati mas penjual soto yang baik hati. Ketika aku menoleh ke kursi mereka, mereka telah berdiri dan berpamitan untuk pulang. 

Hari ini aku mengucap banyak rasa syukur atas apa yang aku punya. Mendapat pelajaran tentang kemurah hatian mas penjual soto. Aku bersyukur aku masih bisa melihat hal yang indah ini. Alhamdulilah Wasyukurilah... 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar