Maaf yaaa teman, buat yang udah kirim kerangka karangan... Aku makin galau jadinya nentuin ending cerbung ini hahahaha... Masalahnya dikembangin jadi mentok semua. Gini aja deh, aku kasih bonus ending versiku aja kali yaaa... Jangan putus asa dong buat yang suka nulis tapi masih susah menterjemahkan apa yang bersliweran diotak menjadi bentuk tulisan... Keep tryiiiing!!! O iyaaaa... Buat BAYU HIMAWAN, ending kamu keren juga, buat pecinta happy ending.. Ntar kalo pada teriak - teriak minta happy ending, maka ending kamu bakal aku posting besok. TETEP DAPET STIKER YAAAAA... THANKS BANGET. Next episode mungkin thriller atau horor... Maaf buat yang request stensilan.. Aku kurang gape bikinnya. Karena stensilan itu gak enak dibaca. Tapi lebih enak dipraktekkan. Percayalah! Mwahahahahaha *ketawa setan
EPISODE 6 : DELUSI
Rendy menatap nanar langit - langit kamarnya. Pikirannya seakan kembali entah dari mana. Kenapa aku ada disini? Sejauh yang dia ingat, dia berada di koridor rumah sakit. Ryan... Iya Ryan! Astaga! Laki - laki itu celaka demi dirinya. Secepat kilat ia mencoba bangkit dari tempat tidurnya. Tapi... Kenapa semuanya jadi serba putih? Kenapa sepi sekali? Ada apa ini? Kenapa tangannya terikat kuat? Dan kenapa kepalanya pusing sekali?
Rendy berteriak - teriak panik. Seluruh tubuhnya mengajaknya meronta. Semua tenaga dikerahkan. Dan tidak satupun membuahkan hasil. Tiba - tiba pintu kamarnya terbuka. Beberapa lelaki dengan wajah datar masuk dan segera menenangkannya. Seorang wanita cantik berdiri dibelakang mereka. Penuh wibawa dan membujuk wanita itu berkata, "Rendy kenapa? Apa yang kamu rasakan? Kamu siap bicara sama saya? Cerita aja yuk! Pasti saya dengarkan." Rendy semakin panik. Itu Virly bukan? Itu Virly!
"Virly.. Kamu..?" Pikirannya semakin kacau. Rendy memejamkan mata erat - erat. Mengusir panik dan kebingungannya. "Tenang Rendy, tenang dulu yaaaa... Iya saya dokter Virly. Masa kamu lupa sama saya? Sudah 3 tahun kamu disini Ren, saya rasa kamu benar - benar belum mengalami kemajuan sama sekali. Mungkin pengobatanmu berjalan ditempat. Tapi saya yakin dokter Ryan bisa membantu kita. Kamu masih ingat dokter Ryan kan? Iya dokter yang kakinya hanya satu. Yang sering kamu ejek. Bagaimanapun dokter Ryan lebih berpengalaman Ren. Saya hanya dokter baru yang sama sekali belum pernah menangani pasien seperti kamu. Tapi pendekatan saya dipuji lho oleh dokter Ryan. Saya harap kamu semakin tenang ya."
Rendy mengerjapkan mata berkali - kali. Jadi ini apa? Mimpi? "Aku kenapa dokter? Aku sakit apa?" Semakin frustasi Rendy semakin kuat menggoyangkan kepalanya. Dokter Virly tersenyum dan menggegam tangan pasiennya penuh simpati. "Kamu kembali tersadar sebagai Rendy saja pun sudah kemajuan besar, bersabarlah, aku dan dokter Ryan pasti berusaha semaksimal mungkin."
Hari berlalu, senja menggantung. Menampakkan semburat oranye yang indah. Rendy menatap jendela kamarnya yang berjeruji. Masih kebingungan dan tidak mengerti. Apa yang telah terjadi. Ingatannya memburuk belakangan ini. Dia bahkan tidak ingat momen - momen penting dalam hidupnya beberapa tahun ini. Semua seperti kabur. Terjebak dalam alam mimpi. Dia bahkan tidak bisa membedakan mana khayalannya dan mana kenyataannya. Seperti tertidur panjang dan memainkan plot - plot yang berkejaran seperti slide film yang diputar berulang - ulang. Ryan adalah dirinya juga. Bahkan Virly. Dia tenggelam dalam perannya sendiri. Mengesampingkan karakter utamanya. Di berada di dunianya sendiri. Kini dia seolah - olah terlempar kembali ke alam nyata. Sebagai seorang Rendy. Iya, Rendy yang kebingungan. Rendy yang tidak bisa menerima kenyataan. Karena semua yang dilaluinya hanyalah semu. Hanya ada dalam file - file otaknya. Otak memang serumit itu.
Dokter Virly menatap pasiennya dari balik jeruji pintu. Tersenyum lega. Masih ada harapan Rendy... Masih ada harapan.
-FIN-
Tidak ada komentar:
Posting Komentar